Selasa, 27 Februari 2018

Binalnya Nafsu Mertuaku Yang Sexy


BCD."Saya kira Rohim hanya mengincar duitnya Bude minah (nama ibu mertuaku Aminah). Bude kan sudah tua, masa sih Kang Rohim mau kalau nggak ngincar uangnya," kata Rosyid, saat aku mengantar dia keluar rumah dan tidak ada Marni di dekat kami. Menurut Rosyid, ia menyampaikan itu agar aku jangan kaget jika mendengarnya. Juga diharapkan dapat mengingatkan ibu mertuaku.

Karena menurut Rosyid, warga kampung sudah geregetan dan berniat menggerebeknya kalau sampai ketahuan. "Terima kasih informasinya Sid. Saya akan mencoba mengingatkan ibu kalau ada saat yang tepat. Saya nanti pulang sendiri ke kampung karena kehamilan Marni sudah hampir memasuki bulan ke sembilan," ujarku sebelum Rosyid pergi dengan sepeda motornya.

Kabar perselingkuhan ibu mertuaku dengan tukang ojek itulah yang membuatku banyak termenung dalam bus yang membawaku dari Jakarta menuju ke desa di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Seperti halnya Rosyid, aku juga tidak habis pikir kenapa ibu mertuaku sampai terlibat selingkuh dengan Rohim. Sebagai bekas istri Sekdes dan tergolong orang berada di kampungnya, ibu mertuaku termasuk pandai merawat diri di samping tergolong lumayan cantik. Maka meskipun usianya telah 52 tahun, masih nampak sisa-sisa kecantikannya. Wanita berkulit bersih itu juga bisa dibilang masih menyimpan pesona untuk membangkitkan hasrat lelaki. Jadi tidak benar anggapan Rosyid bahwa ibu mertuaku tidak menarik lagi bagi laki-laki. Bagian pantat dan busungan buah dadanya memang masih menantang. Aku tahu itu karena ibu mertuaku sering hanya mengenakan kutang dan menutup tubuhnya dengan balutan kain panjang saat di dalam rumah. Bagian dari tubuh ibu mertuaku yang sudah kurang menarik hanya pada bagian perutnya. Seperti kebanyakan wanita seusia dia, perutnya sudah tidak rata. Juga lipatan yang sudah mulai muncul di bagian leher dan kelopak matanya.

Namun untuk bagian tubuh yang lainnya, sungguh masih mampu membuat jakunku turun naik. Kakinya yang panjang, betisnya masih membentuk bulir padi dengan paha yang mulus dan membulat kekar. Dadanya juga sangat montok. Entah kalau soal masih kenyal dan tidaknya. Aku sendiri suka ngiler karena tetek istriku tak sebesar punya ibunya itu di samping kulit istriku tak secerah kulit ibunya. Pernah ketika ibu berkunjung dan menginap beberapa lama di rumahku, aku nyaris gelap mata. Saat itu Marni istriku baru melahirkan anak pertamanya. Ibu sengaja datang dan tinggal cukup lama untuk menggantikan peran Marni mengurus dapur. Saat tinggal di rumahku, kebiasaan ibu mertuaku di desa yang hanya mengenakan kutang dan membalut tubuh bagian bawah dengan kain panjang saat di rumah, tetap dilakukannya. Alasannya, Jakarta sangat panas hingga ia merasa lebih nyaman berbusana ala Tarzan seperti itu. Sebenarnya tidak ada masalah, karena ibu mertuaku hanya berpakaian seperti itu saat ada di dalam rumah.

Namun khusus bagiku saat itu jadi terasa menyiksa. Betapa tidak, sementara harus berpuasa syahwat karena istri yang tidak bisa melayani selama 40 hari setelah melahirkan sementara setiap saat aku seolah disodori pemandangan menggiurkan penampilan ibu mertuaku. Apalgi ibu mertuaku tanpa merasa risi sering berpakaian setengah telanjang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang masih merangsang di hadapanku. Bahkan kutang yang dipakainya kerap tampak kekecilan hingga susunya yang besar tidak bisa muat sepenuhnya terbungkus kutang yang dipakainya. Aku jadi tersiksa, terpanggang oleh nafsu yang tak tersalurkan.

Aku bahkan pernah gelap mata dan nyaris nekad. Malam itu, saat hendak buang air kecil ke kamar mandi, aku sempat berpapasan dengan ibu mertuaku yang juga baru dari kamar mandi. Namun yang membuat mataku melotot, ia keluar dari kamar mandi nyaris bugil. Hanya mengenakan BH, sementara kain panjang yang biasa dipakainya belum dilitkan di tubuhnya. Mungkin ia mengira semua orang sudah tidur. Bahkan dengan santainya, sambil jalan digunakannya kain panjang itu untuk mengelap bagian bawah tubuhnya yang basah. Terutama di selangkangannya untuk mengelap memeknya yang baru tersiram air. "Ee..ee.. kamu belum tidur Win?," katanya tergagap ketika menyadari kehadiranku. "Be.. be.. belum Bu. Saya mau ke kamar mandi dulu," ujarku sambil memelototi tubuh telanjangnya itu.

Ia jadi tersipu ketika merasa sorot mata menantunya terarah ke selangkangannya. Ia berusaha dengan susah-payah melilitkan kain panjangnya untuk menutupi bagian tubuhnya itu. Lalu bergegas menuju ke kamarnya. Namun sebelum masuk ke kamar ia sempat berpaling dan melempar senyum padaku. Senyum yang sangat sulit kuartikan. Jadilah malam itu menjadi malam yang sangat menyiksa. Sebab kendati sepintas aku sempat melihat kemulusan pahanya serta memeknya yang berjembut lebat serta pinggul dan pantatnya yang besar. Akibatnya kejantananku yang sudah hampir setengah bulan tak mendapatkan penyaluran langsung berdiri mengacung dan tak mau ditidurkan. Kalau tidak menimbang bahwa dia adalah ibu dari wanita yang kini menjadi istriku dan nenek dari anakku, rasanya aku nyaris nekad mengetuk pintu kamarnya. Sebab dari senyumnya sepertinya ia memberi peluang.

 Dan aku sangat yakin di usianya yang telah 52 tahun ia masih memiliki hasrat untuk disentuh laki-laki. Untuk meredakan ketegangan yang sudah naik ke ubun-ubun, malam itu aku menyalurkan sendiri hasrat seksualku dengan beronani. Aku mengocok di kamar mandi sambil membayangkan nikmatnya meremasi tetek besar ibu mertuaku serta menancapkan kontolku ke lubang memeknya yang berbulu sangat lebat. Cerita soal ibu mertuaku yang terlibat perselingkuhan dengan tukang ojek, ternyata bukan isapan jempol. Itu kutahu setelah sampai di kampungku. Aku mendapatkan kepastian itu dari Ridwan, temanku yang menjadi guru di salah satu SD di kampungku. Aku memang sempat mampir ke rumahnya sebelum ke rumah ibu mertuaku.

"Kalau mungkin setelah acara peringatan almarhum ayah mertuamu, sebaiknya Bu Aminah kamu ajak saja ke Jakarta Win. Jadi tidak menjadi aib keluarga. Soalnya orang-orang sudah mulai menggunjingkan," kata dia saat aku berpamitan. Kuakui saran Ridwan memang sangat tepat. Tetapi kalau ibu mertuaku menolak, rasanya sulit juga untuk memaksanya. Untuk berterus terang bahwa sudah banyak warga kampung yang tahu bahwa ibu mertuaku berselingkuh dengan Barnas dan warga berniat menggerebeknya, ah rasanya sangat tidak pantas mengingat kedudukanku sebagai menantu. Setelah berpikir keras dalam perjalanan ke rumah ibu mertuaku, kutemukan sebuah solusi. Bahkan ketika aku mulai memikirkan langkah-langkah yang akan kulakukan, tak terasa batang penisku jadi menegang. Hingga aku segera bergegas agar segera sampai ke rumah dan tidak kemalaman.

Aku takut ibu mertuaku sudah tidur dan tidak bisa menjalankan siasatku. Ternyata ibu mertuaku belum tidur dan ia sendiri yang membukakan saat aku mengetuk pintu. Seperti biasa setelah kucium tangannya, ibu langsung memelukku. Namun berbeda dari biasanya, pelukan ibu mertuaku yang biasanya kusambut biasa-biasa saja tanpa perasaan kali ini sangat kunikmati. Bahkan kudekap erat hingga tubuhnya benar-benar merapat ke tubuhku. Seperti biasa ia hanya memakai kutang dan melilitkan kain panjang di pinggangnya. Saat kupeluk buah dadanya terasa menekan lembut ke dadaku. Teteknya yang besar masih lumayan kenyal, begitu aku membathin sambil tetap memeluknya.

 Bahkan dengan sengaja aku sempat mengusap-usap punggungnya dan mukaku sengaja kudekatkan hingga pipiku dan pipinya saling menempel. Tidak hanya itu, aku yang memang punya rencana tersendiri, sengaja mencoba memancing reaksinya. Puas merabai kehalusan kulit punggungnya, tanganku meliar turun. Ke pinggangnya dan terus ke bokongnya yang terbalut lilitan kain panjang. Tampaknya ibu mertuaku tidak memakai celana dalam. Karena tidak kurasakan adanya pakaian dalam yang dikenakan. Namun yang membuatku makin terangsang, pantat besar ibu mertuaku ternyata masih cukup liat dan padat. Ah, pantas saja Rohim mau menjadi pasangan selingkuhnya. Rupanya Rohim punya selera yang bagus juga pada tubuh perempuan, pikirku kembali membathin. Entah tidak menyadari atau menikmati yang tengah kulakukan, ibu mertuaku tidak memprotes saat tanganku mulai meremasi bongkahan pantatnya.

Namun setelah beberapa lama akhirnya ia bereaksi. "Uu... udah Win nggak enak kalau ketahuan si mbok. Ia belum tidur, masih bersih-bersih di dapur," ujarnya. "I.ii.. iya Bu. Maaf saya kangen banget sama ibu," "Marni dan Rafi nggak ikut Win?," kata ibu mertuaku. Kukatakan padanya kehamilan Marni sudah masuk ke hitungan sembilan bulan dan Rafi sering rewel kalau berpergian jauh tanpa ibunya jadi mereka tidak ikut pulang. "Ohh... ya nggak apa-apa. Manto (adik istriku) juga katanya tidak bisa datang. Dia cuma kirim wesel," ujarnya lagi. Oleh ibu aku diantar ke kamar yang biasa kupakai bersama Marni saat pulang kampung. Namun saat ia menyuruhku mandi, kukatakan bahwa tubuhku agak meriang. "Oh.. biar si mbok ibu suruh merebus air untuk kamu mandi biar seger. Sudah kamu tiduran saja dulu. Kalau mau nanti ibu pijitin dan dibalur dengan minyak dan bawang merah ditambah balsem gosok setelah mandi biar hilang masuk anginnya,"

 katanya sambil bergegas keluar dari kamar. Saat ia melangkah pergi, kupandangi goyangan pantat besarnya yang tercetak oleh lilitan kain panjang yang dipakainya. Pantat yang masih padat dan liat. Perutnya memang mulai sedikit membuncit. Maklum karena usianya sudah tidak muda lagi. Namun dengan posturnya yang tinggi besar kekurangannya di bagian perut itu dapat tertutupi. Melihatnya gairahku makin tak tertahan. Usai mandi dan makan malam, aku pamit pada ibu mertuaku untuk masuk kamar. Tetapi sambil jalan aku kembali berpura-pura seperti orang yang tengah tidak enak badan. Maksudku untuk mengingatkan ibu mertuaku perihal tawarannya untuk memijiti tubuhku. Dan benar saja, melihat aku memegangi kepalaku yang sebenarnya tidak pusing dia langsung tanggap. "Oh ya mbok, tolong ambilkan minyak goreng, bawang merah dan balsem untuk memijit Nak Win. Sesudah itu si mbok tidur saja istirahat karena besok harus siap-siap masak," perintah ibu mertuaku pada Mbok Dar, pembantu yang sudah lama ikut keluarga istriku. Tidak lebih dari lima menit, ibu mertua menyusulku masuk kamar membawa piring kecil berisi minyak goreng, irisan bawang merah dan uang logam serta balsem gosok. "Katanya mau dipijit. Ayo buka kaos dan sarungnya.

Kalau dibiarkan bisa tambah parah masuk anginnya," ujarnya setelah duduk di tepian ranjang tempat aku tiduran. Saat itu aku hanya memakai celana dalam tipis di balik sarung yang kupakai. Maka setelah sarung dan kaos kulepas, seperti halnya ibu mertuaku yang hanya memakai kutang dan membalut tubuh dengan kain panjang, tinggal celana dalam tipis yang masih melekat di tubuhku. Sepintas kulihat mata ibu mertuaku menatapi tonjolan yang tercetak di celana dalamku. Sejak memeluk dan meremas pantat ibu mertuaku serta merasakan busungan buah dadanya menempel di dadaku, penisku memang mulai bangkit. Kuyakin batang kontolku itulah yang tengah menjadi perhatiannya. Boleh jadi ia mengagumi batang kontolku yang memang ukurannya tergolong panjang dan kekar.

Atau tengah membandingkan dengan milik Rohim? Kembali aku membatin. Ia memang tidak menatapi secara langsung ke selangknganku. Tetapi sambil mencampurkan bawang merah, minyak dan balsem di piring untuk dibalurkan di tubuhku sebelum dipijat, sesekali ia mencuri pandang. Aku makin yakin bahwa gairahnya dalam urusan ranjang memang masih belum padam. Dan karena lirikan mata ibu yang sering tertuju ke selangkanganku itulah aku menjadi makin berani melaksanakan siasat yang telah kurencanakan. "Bu sebenarnya saya nggak meriang. Saya hanya ingin ngoborol berdua dengan ibu karena kangen dan ada yang ingin disampaikan," ujarku akhirnya. Ibu mertuaku tampak kaget. Ia yang tadinya hendak membalurkan campuran balsem, minyak kelapa dan bawang merah ke dadaku diurungkannya dan menatapku penuh tanda tanya.

 Bahkan terlihat makin panik ketika kukatakan bahwa yang ingin kuketahui adalah soal hubungannya dengan Rohim, pria yang berprofesi sebagai pengojek termasuk soal kegeraman masyarakat yang ingin menangkap basah ibu dan selingkuhannya itu. Takut piring kecil berisi ramuan untuk urut yang dipegangnya tumpah karena kekagetannya, segera kuambil alih. Sambil bangkit dari tidur, kuugenggam tangan ibu mertuaku setelah piringnya kutaruh di meja kecil dekat tempat tidur. "Ibu ceritakan saja sejujurnya pada saya biar nanti kalau sampai Marni tahu saya bisa membantu menjelaskan dan memberinya pengertian," kataku. "Jangan Win, tolong jangan. Jangan sampai Mirna tahu soal ini. Dia belum tahu kan?" Ibu mertuaku menghiba. Ia tampak makin panik. "Belum Bu. Hanya saya yang tahu dari orang-orang. Makanya ibu ceritakan saja semuanya. Ibu benar-benar serius hubungannya dengan Rohim?" Setelah kudesak dan kuyakinkan bahwa aku tidak akan menceritakannya pada Marni, ia akhirnya bercerita. Menurutnya, ia sampai berhubungan dengan Rohim karena iseng dan kesepian. Setelah mencobanya sekali, menurut pengakuan ibu mertuaku, sebenarnya ia tidak berniat mengulangnya lagi. Takut menjadi gunjingan masyarakat.

Tetapi di setiap kesempatan Rohim sering datang dan mendesak. Bahkan mengancam akan menceritakan kepada orang-orang bila ibu mertuaku tidak melayaninya. Hingga sudah tiga kali terpaksa ibu mertuaku melayani Rohim. "Setelah bapaknya Marni tidak ada ibu sering kesepian Win. Sampai akhirnya ibu khilaf," ujarnya. "Kalau dengan Pak Lurah, hubungannya sejauh mana Bu," Aku mempertanyakan itu karena selain dengan Barnas ada pula kabar miring yang kudengar dari teman di kampung, Pak Lurah juga sering bertandang ke rumah ibu mertuaku. Namun kabar miring itu ditepisnya tegas-tegas oleh ibu mertuaku. Ia mengakui beberapa kali Pak Lurah datang ke rumah. Bahkan pernah mengajaknya untuk menikah siri atau menikah tidak resmi. Tetapi menurut ibu mertuaku, ia dengan tegas telah menolaknya hingga akhirnya tidak pernah datang lagi. "Ibu memang cantik dan sexy sih. Saya saja suka nggak tahan kalau melihat ibu," kataku mencoba memancing. "Huussh.. ngomong apa kamu Win. Ibu kan sudah tua," "Eeh bener lho Bu.

Ingat nggak waktu saya memergoki ibu malam-malam keluar dari kamar mandi dan sempat melihat i.. itunya Ibu?" Kuceritakan pada ibu mertuaku bahwa saat itu aku benar-benar sangat terangsang. Bahkan nyaris nekad menyusul ibu ke kamar. Namun karena takut ibu menolak, akhirnya kuurungan. Hanya di kamar, sampai pagi aku tidak bisa tidur karena hasrat yang tak terlampiaskan. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Menurutnya, saat itu ia memiliki perasaan serupa karena gairahnya juga lagi tinggi. "Kalau saat itu kamu nekad masuk kemar pasti kejadian deh," ungkapnya. Pengakuannya itu mendorongku bertindak nekad. Kulingkarkan tanganku ke pundaknya dan kukecup lembut pipi ibu mertuaku. Ia agak kaget dengan tindakan nekadku itu namun tidak berusaha menolak. "Kalau begitu sekarang saja ya Bu. Saya pengin banget,' kataku berbisik di telinganya. "Ta.. ta.. tapi Win," Tetapi ibu mertuaku tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena mulutnya langsung kusumbat dan kulumat dengan mulutku. Ia sempat gelagapan.

 Namun ia yang awalnya hanya diam atas serangan mendadak yang kulancarkan, akhirnya memberi perlawanan saat lidahku mulai kujulurkan menyapu di seputar rongga mulutnya. Ia juga ikut melumat dan menghisap bibirku. Sambil terus melumat bibirnya, aku makin berani untuk bertindak lebih jauh. Kuremas teteknya yang masih terbungkus BH warna hitam. Namun karena kurang puas, tanganku merogoh untuk meremas langsung gunung kembarnya. Payudaranya ternyata sudah agak kendur. Hanya ukurannya benar-benar mantap. Bahkan lebih besar dibanding susu Marni meski dia sedang mengandung. Putingnya juga besar dan menonjol. Aku jadi makin gemas untuk terus meremas dan memain-mainkan pentil-pentilnya. Ibu mertuaku menggelinjang dan mendesah. Bahkan tanpa kuminta dilepaskannya pengait pada BH yang dipakainya hingga penutup buah dadanya terlepas. Aku jadi makin leluasa untuk terus meremasi teteknya.

"Tetek ibu udah kendor ya Win?" kata ibu mertuaku lirih. "Ah nggak. Tetek ibu besar dan mantep. Saya sangat suka tetek ibu. Ngegemesin banget," "Punya Marni juga besar kan?" "Tapi masih kalah besar di banding punya ibu ini," kataku sambil meremas gemas dan membuat ibu mertuaku memekik tertahan. Mertuaku yang semula pasif menyandar ke tubuhku sambil menikmati belaian dan remasan tanganku di teteknya, kian terbangkitkan hasratnya.

Tangannya mulai menjalar dan menyentuh kontolku. Mengelus dan meraba meski masih dari luar celana dalam yang kupakai. Mungkin ia sudah kebelet ingin menggenggam dan melihat penisku. Aku membantunya dengan memelorotkan celana dalamku. Benar saja, setelah terlepas ibu mertuaku langsung meraih batang zakarku. Mengelus kepala penisnya yang membonggol dan mengocok-ngocoknya perlahan batangnya. Tampaknya dia benar-benar ahli untuk urusan memanjakan pria. Bahkan biji-biji pelir kontolku diusap-usapnya perlahan. Sambil menikmati kocokannya, kulepas lilitan kain panjang yang membungkus tubuh ibu mertuaku. Tidak terlalu sulit karena ia hanya melilitkan dan menggulungkannya di atas pusarnya. Sekali tarik langsung terlepas. Dugaanku tidak keliru. Ia tidak memakai celana dalam di balik kain panjang yang dipakainya. Wow memeknya terlihat sangat membukit di antara kedua pangkal pahanya.

Aku yang sudah dua bulan puasa karena perut Marni yang makin membesar akibat kehamilannya menjadi tidak sabar untuk segera menyentuhnya. KUbaringkan tubuh ibu mertuaku lalu aku mengambil posisi berbaring dengan arah berlawanan. Maksudnya agar aku bisa leluasa menjangkau memeknya dan ibu tetap bisa bermain-main dengan kontolku. Bukan cuma tetek Marni yang kalah besar dengan milik ibunya. Dari segi ukuran dan ketebalannya, memek mertuaku juga lebih unggul. Mantap dan menawarkan kehangatan yang menantang untuk direguk. Aku langsung mengecup dan mencerucupi inchi demi inchi organ vital milik ibu mertuaku. Menjilatinya mulai lipatan bagian dalam pahanya hingga ke bagian yang membukit dan ke celahnya yang hangat dan sudah mulai basah. Ibu tak mau kalah. Kurasakan biji-biji pelirku dijilati dan dicerucupi serta dikulumnya. Tubuhku mengejang menahan kenikmatan yang tengah diberikan ibu mertuaku. Meski harus setengah dipaksa, Marni memang sering mengulum penisku sebelum bersetubuh.

 Namun yang dilakukan ibu mertuaku dengan mulutnya pada penisku sangat menggetarkan. Kalau terlalu lama pertahananku bisa jebol dan KO sebelum dapat memberi kepuasan kepada ibu mertuaku. Aku tidak mau ibu mertuaku menyangsikan kejantananku. Apalagi di perselingkuhan pertama kami. Untuk mengimbangi permainannya, lidahku kubenamkan dalam-dalam di lubang memeknya dan mulai mencongkel-congkel itilnya. Tubuh ibu mertuaku tergetar ketika ujung kelentitnya kukulum dan kuhisap-hisap dengan mulutku. Kudengar ia mulai mengerang tertahan. Ia membuka lebar-lebar pahanya dan menghentikan jilatan serta kulumannya pada kontolku. Rupanya ibu mulai menikmati permainan mulutku di liang sanggamanya. Itilnya makin menyembul keluar akibat pososi pahanya yang makin mengangkang. Makin kuintensifkan fokus permainanku pada kelentitnya. Kukecupi, kuhisap dan kutarik-tarik itilnya dengan bibirku. "Aakkhhhh.... ssshh aahhhkkkhh enak bangat Win. Kamu apakan itil ibu Win. Aakkkhh... aakhhhh... aaaaaahhhhh," Rintihan dan erangan ibu makin menjadi. Bahkan sesekali terlontar kata-kata jorok dari mulutnya. Bisa-bisa Mbok Darmi, pembantu ibu mertuaku yang tidur di belakang mendengar dan menaruh curiga. Maka langsung kutindih tubuh ibu dan kusumbat mulutnya dengan mulutku. Lalu dengan tanganku, kuarahkan kontolku ke liang sanggamanya.

Kugesek-gesekkan kepalanya di bibir luar memeknya dan kemudian kutekan. Akhirnya, ... ssleseeep.. bleeessss! Tubuh ibu mertuaku menggerinjal saat batang penisku menerobos masuk di lubang memeknya. Ia memekik tertahan dan dicubitnya pantatku. "Ih.. jangan kenceng-kenceng nusuknya. Kontol kamu kegedean tahu...," kata ibu mertuaku tapi tidak dalam nada marah. Seneng juga dipuji ibu bahwa ukuran penisku cukup gede. "Sama punya Barnas gede mana Bu?" Ibu rupanya kurang suka nama itu disebut. Ia agak merengut. "Membayangkan ibu disetubuhi Rohim saya cemburu Bu. Makanya saya pengin tahu," ujarku berbisik di telinganya. "Ibu tidak akan mengulang lagi Win. Ibu janji. Punya dia kalah jauh dibanding kontolmu. Memek ibu kayak nggak muat dimasuki kontolmu. Ah.. marem banget," jawabnya melegakan. Kembali ibu mendesah dan merintih ketika mulai kukocok lubang nikmatnya dengan penisku. Awalnya terdengar lirih.

Namun semakin lama, saat ayunan dan hunjaman kontolku makin laju, kembali ia menjadi tak terkendali. Ia bukan hanya merintih tetapi mengerang-erang. Kata-kata joroknya juga ikut berhamburan. "Ah..sshh...aaahh terus Win.. ya.. ya terus coblos memek ibu. Ah..aaahhh... sshhh enak banget kontolmu Win. Gede dan mantep banget.... aahhhh ....aaaooooohhhh.....ssshhhh," Celoteh dan erangannya membuatku makin bernafsu. Apalagi ketika ibu mulai mengimbangi dengan goyangan pinggulnya dan membuat batang kontolku serasa diremas-remas di lubang memeknya. Ternyata memeknya masih sangat legit meski terasa sudah longgar dan kendur. Erangan ibu makin keras dan tak terkendali, tapi aku tak peduli. "Memek ibu juga enak banget. Saya suka ngentot sama ibu. Sshhh.... aaahh.. yaa terus goyang bu... aahh.. ya. ya buu....aahsshhh," Berkali-kali hunjaman kontolku kusentakkan di lubang memek ibu mertuaku. Ia jadi membeliak-beliak dan suara erangannya makin kencang.

Goyangan pinggulnya juga terus berusaha mengimbangi kocokan kontolku di liang sanggamanya. Benar-benar nikmat dan pandai mengimbangi lawan mainnya. Bahkan, ini kelebihan lain yang tidak kutemukan pada diri Marni, memek ibu yang tadinya terasa longgar otot-otot yang ada di dalamnya kini seakan hidup. Ikut bergerak dan menghisap. Ini mungkin yang dinamakan memek empot ayam. Aku jadi ikut kesetanan. Sambil terus menyodok-nyodokkan kontolku di lubang vaginanya, pentil tetek kuhisap sekuatnya. Ibu mengerang sejadi-jadinya. Saat itulah kedua kakinya melingkar ke pinggangku, membelit dan menekannya kuat-kuat. Rupanya ia hendak mendapatkan puncak kenikmatannya. Makanya kusumbat mulut ibu dengan mulutku. Lidahnya kukulum dan kuhisap-hisap.

Akhirnya, setelah kontolku serasa diperah cukup kencang, pertanahanku ikut jebol. Air maniku menyemprot cukup banyak di liang sanggamanya bercampur dengan cairan vaginanya yang juga membanjir. Tubuhku ambruk dan terkapar di sisi wanita yang selama ini kuhormati sebagai ibu mertua. Entah berapa lama aku tertidur. Namun saat bangun, ibu mertuaku sudah tidak ada di ranjang tempat tidurku. Rupanya ia sedang berada di daput membuatkan teh panas untukku setelah membersihkan diri di kamar mandi. Seulas senyum memancar di wajahnya saat kami saling tatap sebelum aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Rabu, 21 Februari 2018

Nikmatnya Tubuh Minah Mantan Pengasuhku Yang Montok



BCD.Kisah ini bercerita tentang aku dan keluargaku yang dulu memiliki pengasuh namun kini telah resign.Tetapi pada suatu hari, keluarga kami kedatangan tamu dan ternyata dia adalah bekas pengasuhku dulu. Ia pun telah tumbuh menjadi sorang wanita muda yang matang dengan postur tubuhnya yang mempesona.

Meskipun wajahnya tidak begitu cantik, tapi kemulusan dan kehalusan kulitnya dapat menambah nilai kecantikannya tersebut, maklum saja karena ia berasal dari desa yang berhawa dingin. “Permisi.., Bu…”, sapanya kepada ibuku.

“Oh.. kamu.. Minah… Kok sekarang sudah segede ini. mana suami kamu?”, tanya ibuku.
“Sudah pisah kok Bu”.
“Lho, kenapa?”.
“Itu Bu…, dia kawin sama perempuan lain”.
“Oh ya Bu…., mana Den Andy?”.
“Lha itu dia di sebelah kamu….”.

Memang dari tadi aku terus memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Buah dadanya yang besar dibalut dengan baju lengan panjang warna biru tua, pinggulnya yang bulat dibungkus dengan rok warna cream dibawah lutut. Ck…, ck…, bukan main mantan pengasuhku ini…, pikirku.

“Aduh Deen…., kok sudah besar gini toch, mana ganteng lagi”, sapanya.
“Lha iya wong diberi makan tiap hari kok”, jawabku.
“Wah kalo gini sich, kalo ketemu di jalan, saya pasti pangling lho”.
“Aku juga gitu.. kok Mbak… pangling sama Mbak. Udah punya anak belum?”.
“Belum Den”.

“Jangan panggil Den ach…, Mas aja gitu lho. Kan Mbak sudah bukan pengasuhku lagi. Jadi hubungan kita seperti temen aja, ya khan”.

“Iya deh Mas”.
“Udah sana istirahat dulu”, kata ibuku menyela.
“Terima kasih…, Bu”.

Kemudian Minah pergi ke belakang mencari kamarnya yang dulu untuk tidur. Sejak kepergian Minah dulu, kamar tersebut hanya dijadikan tempat untuk menyeterika pakaian. Dan sejak aku dan saudaraku sudah berangkat remaja, Ibu tidak lagi mempekerjakan pembantu, sehingga kamar tersebut dapat digunakan lagi oleh Minah.

Pada suatu hari, Ibu sedang ke pasar, saudaraku sedang kuliah, dan karena aku perlu pakaian untuk pergi ke rumah teman, maka aku menyeterika baju di ruang seterika. Di situ kebetulan tidak ada Minah, entah kemana. Tetapi tiba-tiba Minah masuk kamar dengan rambut yang masih basah. Kelihatannya dia baru saja selesai mandi dan keramas.

“Oh ada mas Andy toch”.
“Maaf ya Mbak ngganggu, sebentar kok, cuman satu baju”.
“Kalo boleh saya bantu Mas…, biar cepat selesai”.
“Ah.. nggak usah. Makin lama di sini makin seneng kok..”, godaku.
“Ah.. Mas bisa aja”.
“Mbak sekarang kerjanya di mana?”.
“Nggak ada Mas, makanya saya mau minta tolong sama Ibu”.
“Aku dukung dech Mbak, biar nanti bisa mandiin aku lagi”, godaku lagi.
“Kan udah nggak bisa lagi”.

“Kenapa? Apa karena saya sudah besar?”, suaraku sudah mulai terbata-bata menahan nafsu yang sudah mulai datang. Kulihat mukanya memerah. Dadanya turun naik, sehingga semakin terlihat menonjol di balik blusnya yang agak tipis.

“Kan malu Mas..”.
“Ya kalo dilihat orang sich malu, tapi kalo cuma berdua kan enggak”, pancingku.

Tanganku mulai mencoba memegang tangan kirinya. Ia diam saja. Tangan kiriku menarik bahunya yang kanan untuk mendekatkannya ke tubuhku. “Jangan Mas…, nanti dilihat orang… nanti Ibu datang”, katanya bergetar. Tampaknya ia juga sudah mulai merasakan rangsanganku.

Aku sudah tidak peduli, kutarik dengan perlahan-lahan wajahnya ke wajahku, dan dengan lembut kucium bibirnya…., “Uuch…, ehm…., ja…, ngan.., Maass…, ach..”, dan dengan perlahan-lahan lidahku kumasukkan ke mulutnya dan kumainkan, “Aach…, saya mohon Mas…, jangan….”, dengan lemah lembut didorongnya tubuhku untuk menjauhi dirinya.

Tapi nafsuku pada saat itu seakan-akan sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Kutarik lagi dengan agak memaksa tubuhnya kedalam pelukanku, dan kucium lehernya yang mulus…, kubuka kancing blusnya yang paling atas, sehingga tonjolan buah dadanya yang besar sedikit terlihat sehingga membuatku semakin benafsu…, “Aduh.., Mas…, jangan Mas…”, pintanya.

Namun tiba-tiba pintu diketuk dari luar…, “Tok…, tok…, Andy.., tolong bukain pintunya..”, Ibu datang…, waduh.., aku menggumam dalam hati… “Mas, itu ibu datang…”, kata Minah si pengasuh binal sambil membenahi dirinya yang agak kusut karena ulahku tadi.

Siang itu nafsuku belum tercapai. Baru pertama kali itu aku melakukan hal-hal seperti di atas dengan seorang wanita. Selama seharian aku tidak dapat memejamkan mata. Pikiranku terus melayang-layang sampai beberapa hari. Kupikir betapa nikmatnya apabila aku dapat menyelesaikan permainan diatas sampai tuntas. Kesempatan lain ternyata masih ada, ketika itu seisi rumah sedang keluar dan cuaca di luar agak dingin, karena hari menjelang sore. Saat itu Minah sedang menyapu ruang tengah.

Dengan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih agak longgar, bercelana pendek jeans, Minah si pengasuh montok tampak seperti bukan bekas seorang pengasuh. Kulitnya yang putih bersih, dengan rambut tergerai sebahu dan buah dada yang besar membuat jantungku berdegup tidak karuan.

Aku sudah tidak tahan lagi, kutubruk tubuh Minah, kupeluk, kucium bibir, leher dan kembali lagi ke bibirnya. Kulumat bibirnya, meskipun dia sedikit agak meronta, tetapi tidak sekeras pada saat sebelumnya. Tanganku mulai beraksi, meraba pinggangnya, kemudian menyibakkan kaos oblongnya ke atas sehingga sampailah pada kaitan tali BH yang berada di belakangnya.

Kubuka kaitannya, kemudian tanganku merayap ke depan hingga tersentuhlah buah dadanya yang masih padat, meskipun agak turun sedikit saking besarnya. Kuremas dengan perlahan sekali…, kupilin putingnya yang sudah berdiri tegak. “Ach…, ach…”, desah Minah. Sekarang dia sudah tidak meronta lagi, tetapi bahkan terlihat menikmati apa yang kulakukan.

Kusibak lebih keatas lagi kaosnya dan kuturunkan mulutku ke putingnya, kucium…, kemudian kusedot dengan perlahan sekali…., “Ach…, aduh mas…., aduh Mas…, Maas… Kepalanya menengadah seakan-akan menyodorkan buah dadanya untuk lebih dimainkan olehku.

Lama mulutku bermain di puting buah dadanya yang berwarna merah kecoklatan sampai akhirnya tangannya memegang tanganku dan membimbingnya ke bawah untuk menjamah kewanitaannya. Aku turuti keinginannya dan kugosok vaginanya dari luar celananya…., “Auh.., auh… nikmat.. Mas”. Sekarang posisi tangan kananku sedang menggosok kemaluannya dan mulutku terus mempermainkan buah dadanya.

Kemudian tanganku masuk ke dalam celana jeansnya, dan…., aduh mak…, tersentuhlah rambut halus yang telah lembab. “Uuch.., uch…”, dia mendesah. Sambil terpejam menikmati apa yang kulakukan, tanganku mulai menyibak rambut kemaluannya tadi dan tersentuhlah olehku kulitnya… dan “Aauch…, auch… Mas.. nikmat sekali”.

Beberapa saat lamanya ia si pengasuh seksi jadi pasrah dan diam tanpa reaksi. Lama kelamaan, mungkin ia sendiri tidak tahan, hingga ia pun mulai menggerakkan tangannya mula-mula membelai dadaku kemudian turun ke perut dan akhirnya ke celana dalamku. pada saat itu aku mengenakan celana pendek olah raga, dengan kaus singlet diatasnya.

Dia menyentuh penisku, diremasnya dengan lembut, dikocoknya dari luar… “Uugh.., ugh…”, aku merintih kenikmatan “Aadduhh Mbak…, Mbak pintar deh…”, “Ah, Mas juga pintar kok…, malah terlalu pintar dibandingkan usia Mas sendiri…”, desahnya. Kemudian kuseret dia masuk ke dalam kamarku, dan kurebahkan di atas dipanku. Dia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga berada diatasku.. aduh mak, buah dadanya betul-betul indah menggantung di atas hidungku.

Kucium dengan gemas dan kumainkan putingnya dengan mulutku, “Aaacchh…, auch Mas…, auch.., auch..”, sementara itu kulepaskan celana jeans dan celana dalamnya, sambil tangan kiriku terus memeluk pinggangnya dan tangan kananku meremas pantatnya yang masih bulat segar, dan mulutku tetap berada di putingnya. Sementara itu tangannya meremas penisku dengan sedikit mengocok.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya sehingga kami berada pada posisi 69. Dengan nafsu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya “Aach…, ach..”, bandel juga Mbak ini batinku, tapi tentu saja aku juga menikmatinya. Dikocoknya penisku dengan mulutnya. Tampaknya ia sudah berpengalaman dengan gaya-gaya yang aduhai.

Aku tidak mau kalah, kubuka kewanitaannya dengan tangan, kemudian kujulurkan lidahku dan mulailah aku menjilati bagian yang paling terlarang itu, “Uuch…, uch…”. Kami berpagut lama sekali hingga rasa-rasanya aku ingin segera memasukkan alatku ke liang surgawinya.

“Maaas…”. “Ya, Mbak…”. “Tolong dong dimasukin…, saya udah nggak tahan nih…. udah lama saya nggak disentuh, tolong dong mas….”. Aku berpikir sejenak…, bagaimana kalau nanti dia hamil, bagaimana nanti kalau ketahuan oleh Ibu, dll. Tapi aku sendiri sebetulnya juga sudah tidak tahan…, dan akhirnya, “Baik Mbak, ta.. pi…, kalau Mbak hamil gimana dong…” “Saya pakai KB kok mas….”, katanya.

“Baik Mbak…”, kemudian tubuhnya membalik kembali, tetapi posisinya masih di atas. Ia pegang penisku dengan lembut dan menuntunnya memasuki liang surgawinya, dan., “Aachhh.., sshhh…, sshh..”. Penisku serasa dijepit oleh sesuatu yang berdenyut-denyut lembut, dan itu adalah kewanitaannya.

Dia memompa dari atas naik turun beberapa kali, kemudian akhirnya dia merebahkan dirinya ke samping saya, dan meminta saya untuk menyetubuhinya dari atas. Aku naik ke tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulailah aku memompa dari atas, “Aauch…, auucchhh, Mass.., saya mau pipiss…, aachh…, aachhhh…”, dijepitnya pinggangku dengan kedua kakinya.

Penisku serasa akan pecah disedot oleh vaginanya yang bersamaan dengan keluarnya “pipis”nya dan akhirnya akupun tidak tahan, dan, “Aach..”, maniku muncrat di dalam kewanitaannya, “Heh.., heh.”, kamipun lunglai ngos-ngosan. Sambil saling tersenyum, kucium bibirnya, kupeluk, dan sambil berkata, “Terima kasih ya Mbak pengasuh..”, “Malah aku yang harus berterima kasih sama Mas, karena Mas telah memberi saya kenikmatan yang sudah lama tidak saya peroleh”.

Pada hari-hari selanjutnya, aku dan mantan pengasuh ku itu bersikap biasa saja seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Rabu, 14 Februari 2018

Menikmati Tubuh Montok Tukang Cuci Kostku


BCD.Tahun 2006-2007 akhir gue kost di kostan sekitar setiabudi-casablanca. Rumahnya besar dan pagarnya tinggi. penghuni kost macem2: suami istri bule dan bimbonya, cewek2 yg gk kerja tp mobilnya mewah2 (pikirkanlah sendiri apa kerja mereka) dan cowok single gk punya pacar, kebanyakan tionghoa.

Tukang cuci kita ada 2, mbak neneng, 21 th dan mbak tuti 30 th (sebut aja gitu deh). NEneng tampangnya pembantu biasa, belum nikah. Mbak Tuti dah nikah sama satpam salah satu perusahaan di bilangan Sudirman dan tampangnya lumayan. manis, putih, dan lumayan toge. Cuman krn kita jarang di kost juga, jadi jarang kontak sama mereka ini. Cuma pagi mereka ambil cucian kita, sore taro cucian yg udah distrika. Iuran cuci udah termasuk uang kost jadi kita jarang banget bicara sama mereka

sampe suatu hari, Pepen, salah seorang temenku, chinese, kerjanya IT, minta tolong mbak Tuti dipijitin. Sakit beneran tuh anak waktu itu. Dia gk masuk pagi itu dan gw liat mbak tuti masuk kamarnya yg di sebelah gue pagi2 bawa remason gitu. abis itu gue gk liat lagi krn dah berangkat. Malemnya gw gk ktmu pepen, besoknya juga, pas malem jumat pepen cerita, mbak tuti bilang dia juga bisa pijit capek pake minyak kelapa or lotion doang. Asal jangan bilang2 suaminya katanya. Pepen bilang pengen nyoba tp gue bilang jangan nekad. soalnya Suaminya galak, masa
sih mau ribut sama satpam betawi gitu gara2 istrinya, malu2in banget. Pepen bilang kan cuman pijit.

Abis itu gue gk ketemu pepen seminggu. Minggu depannya gue ketemu lg, pepen dan hadi, temen kita yg lain bilang mereka udah masing2 sekali dipijit capek sama mbak tuti. Gue jadi penasaran, emangnya bisa? bayar berapa? pepen bayar cepek, Hadi malah cuman bayar 50rb! tp gk bisa colek2 kan? pepen bilang, gk berani lah. Gue jadi tambah penasaran.Sore2 sengaja gue pulang rada cepet biar ketemu mbak tuti pas dia naro baju yg dah distrika. pas ketmu, gue bilang mau pijit juga. Dia bilang kalo mau jam 9 aja selesai dia ambil cucian dan ngerendem.

OK! besok paginya gue deg2an nunggu mbak tuti ngambil2an cucian dan ngerendem cucian. sengaja gue tlp kantor blg telat. Jam 9 kamar gue diketok. Deg2an gue buka.Mbak tuti muncul. Bajunya belum diganti, masih ada basah2 dikit abis ngerendem baju. Gue suruh masuk dia nunjukin balsem. Mas Aldy mau dipijit sakit apa capek? aku capek mbak, jgn pake balsem, ada lotion aja gk?Pintunya ditutup apa dibuka? tanyaku. Ditutup aja, gk enak sama pak Gatot (yg punya rumah) kalo dia tau aku cari tambahan gini katanya.

Singkat cerita, gue dipijitin sambil dengerin curhatan mbak Tuti soal Rumah tangganya. Gue sih dengerin aja. waktu itu gue belum niat aneh2, karena pepen gk cerita2 apa. takut juga lah kalo colek2 terus jadi masalah.Setelah beberapa lama gue baru deh tanya, pepen itu udah berapa kali pijit sama mbak tuti, ternyata udah 3x! sialan tuh anak ngakunya baru sekali sama gue. terus gue tanya lagi susah mana pijit gue yg badannya gede dengan pepen yg kurus. mbak tuti senyum2 pahit. Mas Aldy sih besar tp gk nakal, mas pepen itu suka, nakal, aku takut. NAkal kenapa mbak?

Dia suka pura2 gk sengaja nyenggol aku. kena2in dada or paha aku. dan kalo mijit bajunya dibuka semua. terakhir aku disuruh mijit pinggir pahanya dan kena itunya. Duh aku takut lho mas. Kalo masku tau, bisa dipukul mas pepen.Dengerin cerita itu gue jadi rada horny. Sialan pepen. Bisa2nya aja."Terus emang kl gk ketauan masnya, kamunya boleh mbak dicolek2?" sambil becanda takut gue nanyanya.Mbak Tuti diem aja. Gue tanya lagi. Baru dia jawab."Aku sih maklum mas. kan mas2 ini masih pada muda2, kerjanya bagus, tp gk ada istri, tp kalo istri orang yg dicolek2 kan bahaya.

Kalo ketauan orang gimana?"Dalam hati gue, ini orang bilangnya takut ketauan terus, jadi kl gk ketauan boleh dong?Dengan hati nekad senekad2nya gue pegang kancing bajunya. terus gue copot satu. Mbak tuti kaget dan melotot, Gue nyengir."Kalo aku tambahin uangnya, tp mbak copot kancing 1, tp gk ada yg tau dan aku gk bilang2, boleh gk? dalam hati gue kayak mau copot saking takut dia teriaknya.ternyata dia gk marah dan senyum2 takut gitu."Ih mas Aldy. Dosa tau buka2 kancing baju istri orang. emang mau nambah berapa?"Aku tambah nekad. "50rb deeh, i kancing aja kok" kataku.Dia ketawa. "50rb 1 kancing berarti 200rb 4 kancing dong?"wah2 ternyata dia berani juga flirting, walaupun mukanya pucet.aku tambah nekad: "iya deh. 4 kancing 200rb""Bener nih mas? tp sumpah ya jangan bilang2 siapa2"Iya bener."ya udah buka aja sendiri" katanya. Matanya merem.

 - Gue pun nekad, gue berdiri kunci pintu dulu dan nyamperin lagi ke tmpat tidur.Gue balik ke tmpat tidur. Mbak Tuti masih duduk di situ, mukanya makin pucet dan keliatan banget grogi."pintunya dah dikunci mas?" keliatan sambil ngomong gitu dia sambil nelen ludah dan bingung2 gitu. Gue gk kalah2 grogi, gue tiduran lagi di samping mbak Tuti."emang beneran jadi mau buka kancingnya mas?""emangnya boleh?' mbak tuti diem, lumayan lama. ngeliat2 ke jendela yg udah aku tutup tirainya. terus liat jam.

Udah jam 10 kurang."emangnya mas aldy gk kerja?""hari ini kan gk enak badan, udah ijin, mbak emang mau ke mana?""bentar lagi aku mau ngangkat baju dari rendeman, emang mas aldy jadi mau buka kancing saya?""boleh kan? satu kancing 50rb kan?" aku jadi makin salah tingkah."emang mau buka berapa kancing?" aku ngitung kancing baju mbak tuti, dia pake baju kemeja tangan pendek gitu. ada 6 kancing. Uf mahal juga kalo mau buka enam2nya."4 kancing tp 150rb aja boleh?""tapi mas janji gk macem2 lagi kan?" keliatan dia takut beneran." ya nggak dong mbak, aku juga takut lah sama mas Ikra (suami mbak Tuti), belum bapak kost, kalo sampe ada yg tau. lagian kan cuman buka kancing aja" mbak tuti diem lagi... matanya ngeliatin mata gw. keliatan banget dia bingung, tp mungkin dia butuh banget uang 150rb itu.

gw sempet kasian, tp adek di dalam celana gk kompromi, . mana tau gw beruntung hari itu."iya deh, boleh 4 kancing aja kan?" dia makin grogi. Gw tarik tangan mbak tuti yg udah dingin ke dekat gw. Pelan2 gue buka kancing ke 2, belahan dadanya mulai keliatan. Sialan, putih juga nih. Gue buka 1 lagi, keliatan jelas sekarang. Ampun deh, pantesan aja dia suka pake baju longgar2 dan kebanyakan kemeja cowok, rupanya emang bulet banget dadanya.

Behanya standard gitu, krem. begitu kancing ke empat kebuka, gue nekad2in nurunin pundak bajunya kebawah sehingga bagian atas badan mbak tuti seperti tinggal beha aja walaupun belum bajunya kelepas semua krn masih ada 2 kancing lagi yg nahan. Mbak tuti mau berontak tp gk bisa. gue rada maksa kali ini.Dia diem gue diem. mata gue nanar ngeliatin tuh badan. perutnya udah rada kendor, maklum dah ada anak 1. tapi dadanya itu maaan. Dasar satpam beruntung banget, punya bini sekel gini.


" ya nggak gitu2 amat lah mas. tp masa mas tega sih ngelabain saya ke situ. saya kan istri orang mas''iya maaf, tp saya susah nahannya, maaf ya mbak' gue pasang muka bersalah.'apa mbak balik aja deh, ini 150rbnya," gue ngambil dompet ke laci disamping tempat tidur.Keliatannya mbak tuti gk enak ngeliat gw ambil dompet, maklum sungkannya masih tinggi, krn bukan pro kali ya? tangannya megang pergelangan gue."jangan gitu mas, saya jadi nggak enak nih.

Saya kan cuman ngingetin mas jangan sampe kelewat aja, mas kan orang asing, saya takut mas.""iya saya kan dah minta maaf?" lagi lagi gue pasang muka gk bersalah."emangnya mas pusing ya?" nah ini dia kesempatan."iya, emang kenapa? kok tau?""saya kan dah nikah mas, saya tau lah, maafin saya ya mas gk bisa menuhin keinginan mas, bukan saya gk suka sama mas, tp saya istri orang, mas ngerti kan?"iya mbak, saya ngerti, ya udah saya mau tidur ya, saya mau keluarin dulu deh di kamar mandi.gw bangun dari tempat tidur, ke arah kamar mandi, mbak tuti terdiam ngeliatin gue. Dia masih duduk di sisi tmapt tidur.Keliatan dia kasian ngeliat gue sekarang.

 pikir gue.Gue berdiri di depan pintu kamar mandi, meliat ke mbak tuti, setengah badannya masih terbuka. Walaupun masih pake beha."mbak, gpp kok kalo mbak mau keluar, aku bisa sendiri kok, abis ini aku mau tidur. itu 150rbnya di atas meja, makasih ya?"Mbak tuti masih terdiam. keliatan dia makin nggak enak."emang mas aldy mau saya gimana?""gk gimana2, saya juga gk berani macem2 sama mbak tuti kok' gw memancing.

Di sini lah wanita sering lemah,   "mas bisa ngebuang sendiri?"bisa lah, saya coba, ya udah mbak tuti dah boleh pulang kok'Tiba2 dia ngelepas 2 kancing sisanya, tinggal celana jins murahnya dan beha aja skr."mas ke sini deh, aku mau nolongin mas, asal mas janji gk bilang siapa2"jantung gue berasa berenti. Mungkin ini saatnya?, pikir gue.gue deketin dia.

Gue berdiri di samping dia duduk,"saya emang boleh apa? mbak mau nolongin saya gimana?""saya bantuin pake tangan aja ya mas? tapi mas gk boleh nakalin saya? Uff, my lucky day!"hmm iya deh, tp behanya dilepas gk?" mbak tuti melotot."Ast... (dia nyebut kata2 Religius gitu).. kok sampe segitunya? gk usah ya mas?""tp kalo dbuka, saya akan cept keluar, dan mbak juga cepet kerja lagi.

Bentar aja kok mbak'"Mas aldy, tolongin saya dong. saya kan udah mau bantuin masa mas mau jahatin saya?'"ya udah deh, terus ini mau gimana?""mas tidur di sini, aku urutin punya mas dari sini. mas gk boleh pegang2 aku ya"Gue pasrah tiduran, rada bete krn dia gk mau dipegang dan gk mau buka behanya. tp gue dah cukup beruntung dia dah mau HJ gue. Perlahan mbak Tuti nuruni handuk gue (daritadi gue pake handuk aja) dan celana dalem gue. Si

Little General langsung bangun tegak berdiri kayak monas di depan dia. Dia ngeliatin si little general dengan  seksama."bentuknya bagus ya mas? mas masih muda dan suka olahraga sih ya? katanya lugu. gue ngakak dalam hati.Perlahan dia megang bola2nya, gue merintih. Dalam hati gue bersorak, akhirnya ada juga kontak seksual antara dia dan gue. Berani juga dia megang2 biji laki2 yg bukan suaminya. dan dia bukan cwek pro!Berapa lama mbak tuti mainin biji dan mulai mengurut penis gue. gk pake lotion or pelumas apa. hanya tangannya dan kulit gue yg besentuhan. Gue terus memandangin si kembar mengkal putih yg cuman ditutupin beha itu. Khayalan gue melayang ke mana2.

Urutan mbak Tuti makin cepat. tangan kirinya berpegangan dengan tangan kanan gue, mata kita saling pandangan. Lama banget gk keluar2. Dia mulai pegel."kok lama ya mas?" hmm ini ksempatan bagus pikir gue."harus ada yg diliat mbak, susu misalnya" kata gue sambil nunjuk ke dadanya. Kali ini dia tertegun.'Emang kalo liat susu saya, cepet keluar mas?""dijamin mbak'"tp kan saya udah punya anak. gk sebagus pacar2 mas dulu lah'"nggak kok mbak, pasti bagus kok susu mbak' buka ya behanya, gw bangun mau meraih hook behanya.

Dia narik badannya.'jangan mas" gue kecewa berat. tp kata2 selanjutnya membuat gue bersorak dalam hati."biar saya aja" yippppieeeee. Begitu dia meraih ke belakang badan mau buka beha, gue ngambil hp di meja samping ranjang. dia berenti."mas mau ngapainnn"??????""bentar aja mbak, gk akan keliatan muka kokk" kamar gue emang rada gelap dan HP gue belum yg mega pixel, tahun itu belum ada. masih VGA gitu deh. dan gue bikinnya video instead of pics. biar keliatan actionnya gitu deh...Dia pasrah, behanya pun kebuka.

Dharrrr!!!! toketnya bagusssssssss... putingnya masih pink dan segerrrr. Kulitnya ternyata emang beneran halus dan licin, Wah wah toket orang betawi ternyata ok juga. kayak chinese punya gitu."gini maunya?" tanyanya halus. gue nyengir2 malu, tp gue dah rada santai nikmatin suasana. Dia ngelanjutin ngurut penis gue, gue coba2 ngadu untung megang dadanya dia dengan tangan kiri, tangan kanan gue masih pegangan dengan tangan kirinya kayak orang pacaran. Ntah kenapa dia gk bawel lagi kali ini, mgkn pengen ini cepet2 selesai.

Gilaa, ini lah pengalaman pertama gue megang buah dada istri orang. perasaan bersalah gue tekan sedalam2nya menikmati licin dan mengkalnya dada mbak tuti di tangan kiri gue. mbak tuti mempercepat kocokannya, gue makin nafsu, begitu tempo naik dan gue terasa ingin keluar, gue duduk dan narik badan mbak tuti mendekat, mulut gue menerkam puting kanannya dah happp, crottttt, sperma gue muncrat ke mana2 sementara puting imutnya gue kunyah abis... terdengar dia mendesah tertahan... badannya terkena ceceran sperma di bagian perut dan sebgian di dadanya.

Gue terkulai lemas. Dia mengelap semuanya. Memakai behanya dengan santai aja kali ini. Gue masih coba rekam dg HP gue. Dan yg gue gk sangka2 mencium kening gue sebelum pergi. sayang kamar gelap banget sehingga 3gp gue gelap juga."mas lega kan sekarang?" gue senyum2 lemes."iya mbak, makasih ya?" aku nambahin 100rb lagi, dia pergi dengan 250rb ditangan, sungguh pengalaman pertama gk terlupakan. begitu dia mau nutup pintu, gue ngeliatin pinggulnya sambil tiduran lemas. Pinggulnya bulet dan keliatan masih kenceng banget.

Setelah kejadian handjob kagetan oleh mbak tuti, gw jarang banget ketemu dia. Ntah dia dateng gue belum bangun, atau gue pulang kantor dia dah pulang ke rumah. Paling2 papasan itupun dia seperti menghindar dari gue. Setelah hampir 2 bulan gk ketemu beneran, suatu pagi sekitar jam 6.30 pagi, pintu kamar kost gue diketuk. Kayaknya setelah agak lama diketuk gue baru bangun. Dengan sempoyongan gue bangun dan buka pintu. Mbak Tuty di depan kamar gue, mukanya rada grogi."kenapa mbak?" gue liat sekeliling gk ada orang, pantesan dia berani ketuk pintu gue. Pepen dan Hadi temen
sesama bujangan di situ dah pindah seminggu sebelumnya k tempat yang lbh deket kantor mereka."Mas Aldy, maafin aku ngeganggu, aku mau minta tolong' Suaranya kedengeran bergetar.

"Tolong apa mbak?' gue masih gk nyambung dan ngantuk luar biasa."anak saya mau masuk Tk, saya mau pinjam uang sama mas Aldy bisa nggak?""emangnya berapa mbak?""sekitar 500rb aja" Gue sendiri gk tau sebenernya berapa masuk Tk di kampung, setahu gue tetep aja lebih dari itu tp gue gk banyak tanya. 'tapi pagi2 gini saya gk pegang uang mbak, nanti malem aja saya pulang kantor ya?'"iya mas, gk papa, makasih ya mas. Mas Aldy mau aku keluarin lagi?" katanya sambil nunduk ketakutan.

Duh, sekejam2nya gue gk mau deh gue manfaatin orang lagi butuh gitu. "Gak usah mbak. Saya gk enak kalo mbak lagi begini dimanfaatin'Mbak tuti keliatan lega. Dia pergi dan kembali lagi malem jam 8. Waktu gue pulang kantor, kostan lantai 2 sepi. Mbak2 penghuni lantai satu lagi pada ngumpul dan ngerokok di depan kamar pas di bawah kamar gue. Begitu gue sampai kamar, di depan kamar, muncul mbak tuti. "Mas, ini saya dateng lagi. mas nyuruh saya dateng jam segini kan?" tanpa banyak komen, gue ngasih dia uang gopek yang gue ambil dari ATM.

Dia ngucapin terimakasih berulang2. gue masuk kamar, ganti baju. Mumpung masih ada mbak tuti gue keluar lagi mau minta baju yg baru gue lepas langsung dicuci. Di luar kamar mbak Tuti lagi nungging ambil pakaian kotor dari bak cucian kamar sebelah, si bapak yg ampir gk pernah keliatan. Kontan pikiran kotor gue keluar."mbak tut, mbak buru2 ya?' Mbak tuti bangkit dan meliat ke gue. "Kenapa mas?""aku boleh nggak liat pantat mbak?' gue asal jeplak, sehabis ngomong, rasanya pengen gue telan lagi dan masuk kamar."kok, knapa mas?, kok tiba2 kepingin liat itu?' dia tampak panik. mungkin inget kalo dia baru aja minjam uang sama gue.

Gue nggak enak sendiri takut dia menyangka gue mau manfaatin budi untuk memanfaatkan dia."saya cuman nanya lho mbak, kalo gk boleh juga gpp, saya bukannya mau manfaatin mbak lho'mbak tuti tampak bingung sekarang.'terus untuk apa mas?' gue tambah bingung jawabnya. 'cuman pengen ngeluarin aja mbak, sambil liat pantat mbak''tadi saya tawarin keluarin pake tangan saya nggak mau. nanti kalo liat pantat saya masnya nakal, saya nggak berani." ujarnya takut2. " nggak deh mbak, saya janji deh. Akhirnya mbak tuti mau masuk kamar gue setelah ngebujuk sekitar 20 menitan! capek deh.di kamar pun gue sulit banget ngebujuk dia nurunin celananya.

Di dalam kamar, gue habiskan beberapa menit untuk ngerayu dia menurunkan celana, sampai akhirnya dia mau menurunkan celana kainnya sampai sepinggul aja. Gue desak untuk ngeliatin dikit aja miss kittynya tp dia kekeuh nolak. Gue sempat geram dan mangkel tapi mau gimana lagi. Akhirnya karena gue udah pusing tujuh keliling, gue selipin aja tangan gue dari depan celananya.

Pegang bentar aja mbak, saya mau keluarin aja, gk tahan. Begitu kena bagian berbulunya gue tekan terus tangan gue ke bawah mau nyentuh lubangnya. Mbak Tuti masih bertahan supaya tangan gue gk kena vaginanya. Uh kuat banget tenaganya. Tapi karena dia sepertinya bertahan juga setengah-tengah, gue kerahkan juga tenaga gue dan jelas lebih kuat. Akhirnya kena juga, wah tenyata basah juga. Gue masukan jari gue sebisanya ke dalam sambil ngocok punya sendiri. Akhirnya, berhubung emang gue dah pusing, bisa juga keluar dengan sensasi baru seperti itu.

Begitu keluar gue lompat2 cari tissue, mbak tuti sempet cekikikan. Gue masuk kamar mandi, dia lagi betulin celananya. Begitu gue keluar, dia dah keluar kamar gue. Darn it!Setelah kejadian itu, gue mulai hati-hati ketemu mbak tuti, takut dia ngadu siapa2. Tapi kayaknya nggak tuh, setiap papasan dia senyum2 aja ke gue. Tp matanya gk berani natap mata gue. Paling2 dia sekali2 bilang pelan2 sama gue: “mas, uangnya belum ada, mas sabar ya’ gue iyain aja, kasian juga sih. Sebenernya gue gk akan tagih lagi tapi dia yang keliatan nggak enak sendiri.

Suatu malem sekitar 1 bulan kemudian, gue masih di kantor, ada tlp dari nomer gk dikenal, tp kepalanya daerah kostan gue. Ternyata mbak Tuti dari wartel. Dengan suara lemes dia minta tolong gue lagi minta pinjaman 800rb. “saya akan balikin semuanya abis lebaran ya mas, saya lagi bingung aja, suami saya mintain uang dari saya tp gk bilang buat apa tp dia marah2 di rumah mas, Barang dibanting2. Uang nyuci saya cuman ada 300 rb”.

Duh, pikir gue, ini pasti urusan judi2an deh, dasar satpam gk tau diri. Gue bilang gue cuman ada 600rb malem itu, mbak tuti bilang dia terima berapa aja yg ada. Suaranya kasian, lemes banget. Akhirnya gue pulang buru2 ke kost. Dia nungguin gue di gelap2 deket tempat cucian. Gue kasih uangnya, dia bilang terima kasih berkali2 dan menghilang dalam kegelapan ? Setelah itu gue gk liat dia berbulan2. Kata neneng dia berantem hebat sama suaminya dan ngungsi ke rumah ortunya di cikarang, bekasi. Hmm, kasian. Sempet sih dia tlp gue bilang masih hutang 1.1 sama gue.

Gue bilang tenang aja, yang penting jangan pulang dulu ke rumah kalo masih panas.Setelah lebaran 2006, akhirnya gue liat dia juga. Gue lagi libur kost dan pulang ke rumah. 3 hari setelah lebaran gue mampir ke kostan ambil buku2 dan ketemu dia di lorong kost.“lho, kok gk mudik mbak” Tanya gue basa-basi. Dia keliatan grogi banget ketemu gue, mungkin takut gue tagih uangnya, dia gk tau kalo gue gk akan tagih juga.

“Rumah bapak saya kan di cikarang, deket, daripada gk ada kerjaan, saya nyuciin baju2 engkoh2 lantai bawah aja. Mereka kan masih di sini libur lebaran ini mas. Mas Aldy gk pulang kampung?”“nggak mbak, saya sih keluarga di Jakarta semua jadi percuma mudik, ini saya cuman mampir aja bentar” gue buka kunci masuk kamar. Tiba2 dia nyamperin gue di pintu. “Mas…”“knapa mbak?”“saya belum bisa balikin uang mas Aldy’ Nah kan bener, pasti dia masih nggak enak soal itu.“iya mbak, gpp.

Gk usah dipikirin dulu. Mbak kerja aja dulu, lama2 juga ada uangnya”“tapi kalo gk ada gimana?’“ya pokoknya gk usah dipikirin, kalo ada ya pulangin, kalo gk ada ya mau gimana lagi’“tapi saya nggak enak mas’ gue terus yakinin dia kalo gpp soal uang sampe dia bilang gini:‘apa saya mesti ngapain supaya utang saya lunas?” dia ngomong gitu kali ini gk nunduk tapi liat muka gue.“aduh mbak, saya nggak mau manfaatin yang gini2, lagian terakhir saya harus maksa2 mbak yg itu, bikin saya tambah pusing” terus terang gue emang bete banget mesti maksa2, mana tenaga nih cewek kuat banget lagi.

Dia diem cukup lama. Terus pamit pergi. Sorenya gue masih di situ ketiduran di dalam kamar kost. Pintu kamar diketuk, gue kebangun, lupa gue di mana, sebentar nyadari diri, o iya masih di kostan. Padahal kost sepi banget, di luar yg biasanya kedengeran rame orang ngobrol kalo sore jadi sepiii banget. Pintu diketok lagi. Gue buka, mbak tuti! Wah kali itu dia keliatan agak dandan, bajunya merah rada ungu, pake rok putih! Haha, rada norak memang. Tp gue kaget juga dia muncul tiba2 gitu.‘eh, oh, kenapa mbak?” dia langsung ngajak masuk terburu2. GUe tutup pintu, kita ngomong setengah berbisik.

“mbak mau ke mana? Pulang ke cikarang lagi?’“Iya tapi mas, sebelumnya saya mau ngelunasin utang. Saya nggak tahan berhutang lama2.“mbak, saya gk bermaksud deh bener, saya juga gk enak kalo ngelunasinnya kayak gini’“Gpp mas, ini kan saya yang mau. Saya rela kok. Mas minta apa? Aku mau deh turunin celana, kluarin mas pake tangan. Mas boleh liat susu saya. Mas pasti kepingin liat saya telanjang kan?” kali ini dia berani banget!!@#@ $@#gue yg grogi, maklum bangun tidur, lagi suasana liburan, gue gk tau ini rejeki nomplok apa bahaya laten.

Tapi kost sepi banget, Yg punya kost kan liburan ke LN tiap libur lebaran. Gila, kesempatan emas banget! Tp gue masih ragu dan rada kasian. Gue jalan ke pintu mau bukain pintu buat dia keluar tp mbak tuti masih duduk nunduk di atas kasur gue. Gue ngeliat dia sambil berdiri. Wanita berkulit kuning, dadanya penuh, pinggul juga penuh. Duduk sambil nafas perlahan. Pikiran gue mulai berubah. Tanduk mulai muncul. Gue jalan ke arah dia. Berdiri di atas dia. Dia nengok ke atas. Pelan2 gue elus bagian atas dadanya. Dia diem aja, gue elus terus. Dia diemmmm aja. Terus gue selipin tangah gue ke balik blousenya dia. Ouchhh halus dan kencengnya baru terasa lagi.

Gila, ni orang kerjanya nyuci tp badannya lumayan kerawat banget, padahal gk pernah ke salon or luluran kali.Elusan gue mulai jadi remasan. , mbak tuti dengan suka rela ngebuka kancing bajunya. Wow! Baru sadar gue, buleet dan masih kenceeeng banget. Kali ini gue liat dia cooperative banget. Baru ini gw bisa Gue langsung ngeluarin HP, dan coba rekam. Awalnya mbak tuti protes. Tapi karena tangan gue masih ngeremasin dadanya, dia gk berkutik..Setelah beberapa menit mainin dadanya, gue turunin celana gue.

Dia masih diem aja ngeliat little general gue di depan matanya. Tp matanya kayak sayu, mungkin dia masih takut2. Gue ambil tangannya untuk mijat si Mr. P. dia pasrah dan lebih nyerah daripada 2 kesempatan sebelumnya. Gue terus ngeremas dadanya. Narik blouse merah marunnya ke depan. Wuihhh, dadanya bener2 deh.

Gk nyangka pokoknya dia itu hanya seorang tukang cuci dan istri satpam. Pikiran gue makin nakal. Suasana di luar sepi banget soalnya.“Mbak mau ke cikarang jam berapa?”“jam 8an gitu deh”“emang ada kendaraan?”“ada kok omprengan dari cawang’ Gue ngangguk2, padahal pikiran gue gk ke situ, cuman mikirin gimana caranya gue lebih beruntung dari itu. Lalu akhirnya gue nekad nanya.“mbak?” hampir aja suara gue gk keluar.

Biasanya gue rada maksa untuk sesuatu, tp saat itu kepikiran aja, would it be nice to ask nicely ?“knapa mas?”“mbak aku telanjangin ya?” kerongkongan gue terasa kering bangetttt… ceket banget rasanya.“emang mas aldy maunya gitu?” dia seperti yg udah pasrah.“iya mbak, boleh?” nafas gue mulai tersengal.“mmm boleh mas. Tp mas gk akan bilang siapa2?”“iya mbak”“janji?”“Janji”dengan pelan2, dia  bangun, gue turunin celana gue semua. Dia jalan ke ujung tempat tidur. Dan pelan2 membuka baju dan roknya satu demi satu. Tinggal gue yg bengong, hampir gk percaya dengan apa yg gue liat.

Gila, berani juga nih mbak2! Skr dia telanjang bulet deket kaca. Gue kasih kode dia supaya mendekat. Dengan pelan dia jalan mendekati gue.Begitu dia deket dan berdiri di depan gue. Gue bengong sebengong2nya, ilmu sex gue bertahun-tahun ilang semua. Gue gk tau apa yang harus pertama gue lakukan! Dia berdiri deket banget dengan gue, gue pandangin satu persatu perabotannya. Gila, mbak Tuti, seorang istri satpam, berputra satu, berdiri di depan gue tanpa secarik kain pun!!!

Gue pandangin tengah2 pahanya. Auwww, bulu2 kemaluannya tertata rapi dan sama sekali tidak gondrong. Uf, kayak punya ABG aja. Gue elus pinggulnya yang udah lumayan lebar (maklum dah punya anak 1). Gue endus2in kemaluannya, hmmm, lumayan tuh, gk ada bau gk enak apapun dari situ. Tangan gue ada di pantatnya, meremas2 pantatnya. Tangan mbak Tuti ngelusin rambut gue.

Terasa banget tangan itu bergetar pertanda grogi.“mas, saya takut”“takut apa mbak?” sambil ngomong gitu, tangan gue nyelip dari belakang, menyeruak dari sela pantatnya dan menancap di kemaluannya dari belakang. Uh terasa dah basah gitu. Berarti gue masih punya kesempatan untuk ngelanjutin ngelabain dia. Hmm, mudah2an aja bisa nyicipin itu pake si little general. Tapi gue hilangkan kayalan itu, ini aja udah sukur, jgn sampe dia kabur kalo gue terlalu serakah mau semuanya.“takut aja. Ini gk baik mas.

Saya jadi merasa bersalah sama Suami saya.””tapi kan suami mbak jahat sama mbak” gue tetep mengendus2 dan mengorek2, pantatnya bergerak otomatis mencoba menghindari tusukan tangan gue di kemaluannya. Duh, tapi tetep aja tambah basah tanda dia mau2 tapi malu.“Mas, udah dong”“Mbak kan dah janji, aku gk mau pusing lagi kayak waktu itu”“ya udah, cepetin selesai aja deh mas”“iya iya” gue iyain aja padahal dalam hati gue, enak aja, wong baru juga mulai. Akhirnya gue telentangin mbak tuti pelan2 di kasur. Begitu gue merangkak di atasnya dia terkaget dan berusaha kabur.“mass, saya gk mauuu.

Mas, jangan entot saya yaa?’ katanya hampir nangis. Gue jadi takut sendiri.“iya mbak, saya cuman mau gesek2in aja kok”“aduh mas, saya takut beneran deh, saya mau nangis aja. Mas aldy jangan tega sama saya ya’ Pintanya memelas. Gue mulai menghilangkan pikiran itu.“iya deh” dengan lemas gue berbaring di sampingnya. Mr. P gue mulai ciut karena kecewa majikannya gk dapat apa2.

Sambil berbaring, perlahan gue remas dadanya. Cessss, ada susu keluar!!!! Gue kaget.“lho mbak, bukannya si adek udah gede??”“iya, aku sempet hamil kemarin, tp keguguran, jadi masih ada susunya”Gue sih percaya2 aja, padahal gue gk tau apa itu mungkin. Gue asyik aja ngeremesin susunya pengen tau. Cairan hangat terus menetes dari putingnya.

Pelan2 gue jilatin dan cobain sedkit. Ugh nggak enak! Gue muntahin lagi. Tapi tangan gue tetap jalan ngeremesin dada itu. Matanya memandangin tangan gue yang membelai dan ngeremes dengan lembut itu. Bingung kayaknya, mungkin biasa dikasarin sama suaminya.Setelah hampir 15 menitan. Gue bangun kepingin pipis.

Gila, mungkin karena sempet tegang banget tadi dan kecewa mbak Tuti malah wanti2 supaya jangan ada peristiwa berdarah ?Keluar dari kamar mandi. Gue tambah kecewa, dia sedang pakai baju. Huh, tau gitu gue keluarin aja sendiri di kamar mandi.Begitu ngeliat gue kecewa, keliatan mbak Tuti jadi resah. Gue pura2 duduk jauh dari dia, sambil nyalain TV.

Dia keliatan gk enak banget. Dari tempat dia duduk, mbak tuti nanya hati:“emang mas aldy kepingin itu ya?” matanya keliatan lumayan tulus nanya begitu.“ya tp aku gk berani lah mbak kalo mbaknya gk rela” dia langsung keliatan tambah nggak enak. Cukup lama dia mikir. Gue diem aja gk mau keliatan terlalu bernafsu. Jadi gue tetep aja nonton TV. Mabk tuti tambah gelisah. Dia tetep make bajunya tp kemudian gk keluar2 kamar.“mbak gk jadi berangkat jam 8? Nanti kemaleman’“mmmm bentar lagi deh” mbak tuti berdiri terus berjalan ke arah kamar mandi. Sebentar di dalem dia keluar lagi.

“Mas, mas bener2 kepingin?” buset deh, gue jadi mulai kesal.“iya mbak, tp saya gk mau maksa2, gk enak dan tambah pusing”“emang pacar mas ke mana?” ampun deh tambah ngeselin aja bawelnya.“ya ada, tp saya kan gk pernah gituan sama dia” mbak tuti diem lagi. Bener2 bertele2, gue jadi gk sabaran dan kepingin minta dia keluar aja, tp gue gk tega aja.Bberapa menit, dia mulai bicara lagi.“kalo saya berapa menit lagi di sini, mas Aldy mau nganterin ke Cikarang?’ Hmm maunya apa ni orang, gue mulai bertanya2 dalam hati.“mau aja sih, emang mau sampe jam berapa di sini, nanti ada yg tau lho, saya nggak mau dapet masalah lho mbak.

”Dengan sangat ragu, mbak tuti ngutarain maksudnya.“gini, saya mau deh mas masukin, tapi mas bener2 sumpah jangan bilang siapa2, dan jangan lama2, dan saya dianterin ke cikarang malem ini ya mas? kalo naik angkot lagi saya takut kemaleman sampe sana, nanti suami saya curiga”DHUARRR!!! Rejeki nomplok apa ini. Si Mr. P langsung semangat lagi. Gilaaaa, mimpi apa tadi malem gue, beruntung banget gue mutusin mampir ke kostan pagi tadi. Padahal dah hampir gk jadi ke sini.

Gue nelen ludah berkali2.“mbak yakin?” muka gue pasti keliatan grogi dan pucet. Asli, rejeki nomplok banget kalo beneran kejadian malem itu.“sebenernya saya gk yakin, tapi saya kasian sama mas, mas selalu keliatan pusing sendiri liat saya. Mudah2an kalo saya bolehin malem ini mas bisa ngilangin pikiran jorok dari saya’Gue jadi malu sndiri.“tapi beneran kok mbak, saya gk mau mbak terpaksa saya gituin. Nanti saya kepikiran sendiri’ Gue duduk di samping dia. Tangannya gue pegang dan gue elus2. Dalam hati sibuk bertanya2, apakah bener gue akan melahap tubuhnya malem itu.

What a nice gift!‘gk kok mas, saya udah pikirin, saya maunya abis ini mas janji jangan nakal2 lagi sama saya ya? Sama mbak2 lainnya juga kalo nanti ada”“Iya mbak” sumpah I will say anything in the world just to score that nite!!Mbak Tuti berdiri, dia buka blousenya dan bhnya setelah itu, mata gue nanar banget ngeliat skr dia buka baju di depan gue. Bener2 bbrp senti aja di depan mat a gue susu tumpah milik satpam gk jelas itu. Gue gk basa basi lagi, langsung ngelahap puting mbak Tuti sambil dia berdiri. Kali ini dia mendesah2. Tapi tetep pelan, dadanya berdegup kenceng banget. Gue buka celananya lagi. Srooot. Dia telanjang bulet skr.

Gue pegang Ms. Vnya udah basah banget. Gue colokkan jari ke dalam, dia menarik pinggulnya ke belakang.“jangan masukin tangan dalem2 mas, perih nanti” keluhnya. Gue ngalah. Gue gendong tubuh yg dah rada ndut itu sambil terus ngunyah dada mengkalnya.“jangan kenceng2 gigitnya mas, nanti tanda” dia ngeluh lagi. Kaki nya dah ngelingker di pinggang gue, posisinya masih gue gendong. Gue inget sesuatu, terus gue bisikin.“mbak, saya gk punya kondom!” Tapi ternyata dia cuwek aja

“Gpp mas. Saya lagi gk subur kok” ah yang bener, pikir gue.Tangan gue melingker ke belakang pantatnya dan ngeremes sepasang benda buletnya itu.Dengan semangat gue banting dia ke tempat tidur. Kakinya merentang. Kali ini dia pasrah banget. How lucky I was for that!Dengan hati2 gue tindihin dia, Sejenak mbak Tuti agak mendorong dada gue, mungkin refleks karena gk biasa digitukan oleh lelaki selain suaminya.

Gue pandangin matanya. Dia pura2 ngeliat kea rah lain. Gue coba supaya gk keliatan terlalu bernafsu dengan cara cium bibirnya, ternyata dia gk gitu jago ciuman. Ntah kenapa, gk enak aja, gue coba arahin si cockzilla ke arah tujuan gue. Dia agak mingser2 gitu menghindar. Terus2an gue tekan2 dan sempet masuk kepalanya doang tp dia refleks menghindar dengan memiringkan pinggulnya. Gue agak kesel, gue peluk dia kuat2.

Gue gigit bagian atas dadanya, dia menjerit kecil kesakitan. Selagi dia teralih perhatiannya, gue tekan dan Blesssss. Oucccccchhhhhhh. Hangatttttt banget. Masuk booooowwwwww. Dia menjerit dengan suara rendah banget, tangan kanan nya mencakar punggung gue. Tangan kirinya menjambak gue. Sakit juga tp gue gak perduli lagi. Gila, akhirnya gue bisa juga ngelakuin itu. Pandangan gue mulai kunang2, enak banget gila.

Sensasinya beda banget. Badannya lebih penuh daripada cewek2 yang pernah sama gue. Mngkin krn dia dah punya anak dan ini kali pertama gue ML sama istri orang. Gue coba genjot, dia kelamaan mulai ikutan. Kita mulai gk bicara lagi, yg kedengeran cuman plek plek plek kemaluan gue dan dia saling menyatu. Rasanya sulit dipercaya akhirnya gw ngentot si tuti. Ruangan dingin tp keringat mulai bercucuran. I’m telling you, meliat wanita mengkilat karena berkeringat memang benar2 sangat merangsang dan seksi. Karena sensasi yg gk keruan, gue rasain ampir keluar. Gue coba macem2 cara untuk menahan tp kyaknya dah gk bisa.

Gue coba lengketkan lidah ke langit2 mulut gk bisa, gue tahan nafas gk berhasil. Si cockzilla berdenyut keras. Dia kayaknya tau gue mau keluar. Dia mempercepat gerakan pinggulnya. Mungkin biar cepet selesai ‘tugas’nya.Dengan tiba2 gue cabut. Plok. Gue gk mau keluar gitu aja. Gue duduk dengan lutut di depannya. Dia bingung.“kenapa mas? Nggak enak ya?“bukan, boleh dari belakang gk?”Dia terdiam. Matanya berkaca2.“Kenapa mbak?”“saya inget suami saya mas” Waduh, this cannot be happening. Bahaya, bisa gagal mission objective for the nite.

Gue harus selesaikan secepatnya!“iya mbak, bentar lagi selesai kok. Saya dah dah mau keluar kok’“janji ya mas?”“iya janji kok’Dia pun membalikkan badannya. Dan woooowww!!! Pinggulnya buletttt banget dan licin karena berkeringat. Gila, ini sih gk baklan lama. Gue cari2 lubangnya. Dia Bantu dengan tangannya. Krn punyanya dah basah, gk sulit dan blesss. Gue pegang pinggulnya dengan kncang. Gue bener2 di langit. Gue tekan sedalam2nya dan mentok. Gue gk kocok lagi. Gue diemin dalam posisi mentok gitu. Tangan gue meremas dadanya dan menciumi lehernya.“nggggghhh, enak masss?’Gue gk jawab. Gk kuat banget, gue coba tahan supaya gk keluar.

Kesempatan emas begini belum tentu gue dapet lagi jadi gue berusaha menahan slama mungkin. Gue lepasin ciuman dari lehernya. Gue naik lagi dan meliat dari perspektif agak jauh seorang wanita bersuami, telanjang bulat, dengan pinggul yg luar biasa merangsang, basah krn keringat dan penis gue tertancap sedalem2nya di antara selangkangannya. Tiba, vagina mbak tuti berdenyut2 kenceng banget. Gue kaget setengah mati. Gue teriak2.

Awwwwwwww…. Rupanya mbak tuti mengeluarkan jurus pamungkasnya supaya cepet selesai, dan dia berhenti dimain2in oleh gue. dan Crottttttttt, crottttt. Keluar semua isi pistol gue, semuanya di dalammmm!!! Gue kejang2 saking enaknya. Sampe skr pun mgkn gk pernah ada orgasme seenak saat itu. Gila banget. Gue gk tau jurus kenyot apa yg dipake. Yg jelas gue keok… terus keluar gk berhenti. mbak tuti merintih memanggil nama gue, cowok yg sedang menyemproti rahimnya dg sperma. "Ohhhhh mas aldiiii" crot crot crotttt. Otot pantatnya mengencang.

Akhirnya gue lemes terkulai di sampingnya. Gue liat tubuhnya yg mengkilat krn berkeringat, telentang dengan puting yang masih mengacung ke atas. Matanya terliat sendu dan berair. Pasti dia sedih tubuhnya baru gw nikmatin. Gue kenyot sekali lagi toketnya kiri kanan tanpa perlawanan. Dia mengelus kepala gw saat gw sedot toketnya. Gw coba ajak bicara:
"Mbak knp nangis?"
"Aq inget suamiku mas" Duh mulai deh.
"Mbak jgn ngomong gitu dong, nanti aq merasa bersalah terus" Mbak tuti tersenyum pahit sambil mencium pipiku.
'Mas aldi gk salah, mas dah baik sm aq. Aq seneng bs muasin mas"
"Bener mbak?"
"Iya, td enak kan? Tubuh ibu2 lho td"
"Enak bgt mbak"
"Setelah itu dia bangkit, gk ngomong apa2 lagi.

Gue rasa gk enak. Kita mandi gantian dan mengendap2 keluar kamar. Gue nyalain mobil. Dia nunggu di ujung gang dan gue anter ke cikarang. Di jalan kita gk ngomong apa2 lagi. Sampe cikarang dia minta gue turunin agak jauh dari rumah ortunya. Gue kasih 500rb, dia ambil juga walau awalnya menolak. Gue pulang langsung dengan pikiran berkecamuk.

Antara seneng dan merasa bersalah. Gk akan lagi mengalami hal seperti itu. What a lucky bastard I was that nite.Setlalah malem itu kita jarang ketemu lagi. Setiap ketemu dia cuma negur. Terakhir gue denger dia dia berhenti kerja dan buka warung di cikarang. Suaminya tetep jadi satpam dkt kost gue. Gue keluar dari kost itu kira2 4 bulan kemudian meninggalkan sejuta kenangan hehehe.

Selasa, 13 Februari 2018

Nikmatnya Tubuh Wanita Paruh Baya Yang Sexy Dan Montok


BCD.Sayang, kamu nakal ya kemarin,”demikian isi sms Bu Intan.
“Habis aku ngiler banget lihat Bu Intan dengan kebaya kemarin. Pas banget. Bu Intan semok banget, Bu, ”balas Robby.
“Masa sih say…?”tanya Bu Intan.
“Iya, Bu. Pengen banget aku meluk Bu Intan yang lama banget,”Robby meneruskan rayuannya.
“Ibu tau kok nak Robby sering curi-curi pandang selama ini sama ibu, ”sms Bu Intan.
“Iya, Bu. Aku udah lama emang suka liatin Bu Intan,”balas Robby.
“Hmm, jadi nak Robby mau pacarin ibu iya?” tanya Bu Intan.
“Iya, Bu. Aku kangen ama Bu Intan. Aku suka ama Bu Intan,”balas Robby.
“Tau ga say…nak Robby bikin ibu blingsatan lho kemarin,”sms Bu Intan.
“Bu Intan…!?”tulis Robby dalam sms-nya.
“Apa say.., “balas Bu Intan.
“Aku pengen banget jumpa, Bu…,”sms Robby.
“Aku juga nak Robby…,”balas Bu Intan. “Aku penasaran lho…,”Bu Intan melanjutkan sms-nya.
“Aku juga, Bu. Aku pengen jumpa dan berduaan sama Bu Intan,”rayu Robby dengan mantap.
“Aku juga sayang,”jawab Bu Intan.
“Besok sore bisa ga, Bu?”tanya Robby.
“Aku ga mau kalau sore. Aku maunya dari pagi sampai besok paginya,”sms Bu Intan.

Isi sms-nya ini memang menunjukkan nafsu seks-nya yang sangat besar terhadap pemuda itu.

“Ohh Bu…kapan?”balas Robby.
“Pokoknya kalau sudah ada waktu nanti Ibu kasih tahu,”jawab Bu Intan.
“Iya, Bu. Dari dulu sejak pertama lihat Bu Intan, aku selalu menghayal bisa ngentot sama Bu Intan,”sms Robby.
“Ibu juga. Mata nakalmu bikin Ibu sering gatal pengen ngentot sama kamu say,”balas Robby.
Lalu Bu Intan melanjutkan lagi,”Udah satu tahun ini Ibu ga pernah lagi main sama suami. Ibu gatel banget say,”sms Bu Intan.
“Oh Bu. Aku pengen segera jumpa sama ibu,”tulis Robby dalam sms-nya.
“Iya sayang. Ibu juga udah pengen banget. Kemarin aja seandainya lagi ga ada acara ibu udah pengen ditidurin sama

kamu. Apalagi pas pegang kontolmu yang besar dan panjang itu say…ibu sange banget sebenarnya waktu itu say…,”

Demikianlah sms-sms antara dua manusia yang memasuki lingkaran perselingkuhan itu. Dan ketika ber-sms itu, Bu Intan sama halnya dengan Robby sedang sendirian di kamarnya. Ia nyaris bugil karena nafsunya pada pemuda yang bernama Robby itu.Bu Intan hanya tinggal berdua suaminya di rumahnya, serta dua pembantu. Anak paling besar laki-laki sudah menikah dengan 1 anak tinggal di Yogyakarta, anaknya nomor dua Windya Ristanti menikah dengan kakak Ilham yang temannya Robby, sementara anaknya yang paling kecil perempuan, kuliah di UGM. Jadi ketika suaminya kerja, Bu Intan hanya ditemani pembantu.

Dan ini membuat Bu Intan dan Robby saling memupuk fantasi birahi di antara mereka. Mereka dengan leluasa merayu dan dirayu melalui telepon atau sms.Bu Intan begitu rindu-birahi dengan batang perkasa pemuda itu. Ia sudah pernah mengocoknya. Bahkan Bu Intan merasa jemarinya hampir tidak bisa melingkari batang kontol pemuda itu ketika kontol itu menegang maksimal. Dan Bu Intan sering sangek berat manakala membayangkan kontol Robby yang besar dan panjang itu mengeras dalam genggamannya.

Dan itu sering membuatnya gelisah di ranjangnya. Ia sangat ingin kontol besar pemuda itu mengentoti memeknya yang sudah sangat gatal. Hayalnya membayangkan pertemuan kelamin mereka akan sangat menempel ketat karena besarnya kontol Robby. Ia sering membayangkan pinggul pemuda itu yang nampak kokoh bergerak naik turun di antara selangkanganya. Bu Intan berjanji dalam hati akan sepenuh perasaan menikmati entotan pemuda itu, ketika waktunya tiba. Bu Intan sangat yakin saat yang ia nanti tidak akan lama lagi. Nafsu seksualnya sangat menuntut untuk disalurkan sepuasnya.

Beberapa hari kemudian Bu Intan langsung menyuruh pembantunya pulang kampung beberapa hari ketika suaminya, Pak Suriono Rusmanto, mengatakan akan mengikuti Diklat selama seminggu di Jakarta.

“Sayang besok siang jam 12 ke rumah iya,”demikianlah pesan singkat Bu Intan pada Robby.
“Emang bapak kemana, Bu,”tanya Robby dengan dada bergetar.
“Barusan berangkat ke Jakarta. Bapak ngikutin Diklat seminggu di sana,”sms Bu Intan.
“Oh Iya Bu Intan sayang. Aku kangen Bu…,”
“Mmuuah…,”balas Bu Intan. “Ohhh…mmuuaahhh…mmmuuaahhh….,”demikianlah Robby semakin memanaskan suasana birahi wanita paruh baya itu.

Esoknya dengan motor Tiger2000 miliknya, Robby memasuki gerbang rumah Bu Intan. Siang itu suasana sekitar rumah Bu Intan memang sepi. Di balik pintu yang terbuka sedikit itu, Robby bisa melihat Bu Intan sedang menunggunya masuk. Bu Intan memakai celana sangat pendek yang begitu ketat. Bahkan gundukan memek Bu Intan tercetak dengan jelas karena celana pendek tersebut terbuat dari bahan katun tipis. Di bagian atas Bu Intan memakai kemeja longgar yang bagain bawahnya nyaris menutupi seluruh celana pendek Bu Intan, sehingga Bu Intan sekilas seperti telanjang hanya memakai kemeja.

Bu Intan dengan lenggok gemulai penuh birahi menyambut masuknya anak muda itu. Ia langsung meraih pinggang Robby dan merapatkan tubuh sintalnya ke tubuh pemuda itu. Bu Intan dengan gaya manja menengadah memandang wajah Robby. Bu Intan meraih tangan Robby lalu melingkarkan tangan tersebut agar merangkul pinggulnya.

“Ga kemana-mana kan hari ini?”tanya Bu Intan manja.
“Nggak Bu,”jawab Robby dengan suara parau. Ia belum menguasai keadaan itu, akan tetapi telapak tangannya mengusapi pinggul Bu Intan.

Mereka beriringan berjalan, dan kaki Bu Intan sepenuhnya menuntun langkah-langkah mereka dalam ruangan itu. Bu Intan lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kamar yang terbuka. Ia memutar lalu menghadap Robby. Robby dengan lugas mengikuti setiap bahasa tubuh Bu Intan. Bu Intan memeluk tubuh Robby dan menyandarkan beban tubuhnya pada pemuda itu. Kedua tangannya bergerak melingkari leher Robby. Ia menatap mata Robby lalu tersenyum nakal.

“Muuahh…,”Bu Intan meruncingkan bibirnya dan mengecup manja ke arah mulut pemuda itu, tanpa menyentuh mulut itu.

Dan detik itulah Robby mengambil alih suasana. Robby langsung mengetatkan remasannya pada pinggang Bu Intan. Lalu dengan tatapan nanar Robby membuka mulut. Dengan penuh gelora birahi, Bu Intan membuka memejamkan mata dan secercah bibirnya. Robby langsung mengulum bibir Bu Intan dengan sepenuh nafsunya. Bu Intan menyambut lumatan mulut Robby dengan megeluarkan lidahnya. Bu Intan dapat merasakan nafsu yang panas pada mulut, bibir, dan lidah pemuda itu. Dan dengan geliat bibir dan lidah yang sama panasnya Bu Intan menyambut semua itu sepenuh raganya.Bu Intan sangat ingin Robby tahu bahwa ia memiliki nafsu yang sama dengan dirinya.

“Ngmmmahhh…mmccppppphhhh..nngghhh,”mereka sama-sama mendesahkan hal yang sama ketika mulut mereka sejenak terlepas untuk mengambil nafas.

Tapi hanya sejenak, karena mulut mereka kembali berpagut dan saling melahap. Bu Intan memutar kepalnya agar mulutnya bisa mendapatkan posisi yang pas untuk memaguti dan mengemuti semua bibir Robby. Robby begitu berdebar menyadari nafsu yang ditunjukkan Bu Intan, sehingga ia tidak ragu meremasi pantat Bu Intan yang bahenol. Robby meremasi pantat montok itu dengan ketat dan vulgar. Ia menekan-nekankan pantat Bu Intan agar kontolnya memperoleh gesekan yang nikmat.

Mmmmcccpppahhh…mmccppphh….mmmcccppphhh…mmmhhhcccpp phhh…nngggmmmcccpppmmmhhh…”Bu Intan begitu menguasai aksi ciuman itu. Ia meruncingkan bibirnya dan mengecupi bibir Robby berkali-kali.

Lalu tangan kanan Robby bergerak ke atas. Ia menempatkan telapaknya di gundukan buah dada Bu Intan lalu perkahan meremasi buah dada itu. Robby begitu bernafsu ketika telapak tangannya bertemu dada yang sangat besar. Ia sadar buah dada Bu Intan memang besar. Dan masih padat. Walau terhalang kemeja, akan tetapi Robby betul-betul merasa puas meremasi dada itu.

“Nnnggmmmmhhhhssshhh…,”Bu Intan langsung mendengus ketika merasa dadanya diremas perlahan.

Ia makin mengetatkan rangkulannya di leher Robby. Bu intan mengecap-ecapakan mulutnya di mulut Robby. Ia mencipoki bibir pemuda itu penuh nafsu. Kadang lidahnya terjulur keluar untuk menjilati mulut Robby.

“Ohhh…,”Bu Intan sejenak menengadah akibat nikmatnya remasan-remasan Robby di buah dadanya. Lalu sejurus kemudian ia kembali memaguti bibir Robby….”Nnngggmmmmccccpppsshhh…,”Bu Intan mendesah penuh birahi.

Kali ini ia menarik tubuh Robby memasuki kamar yang terbuka. Dengan tubuh masih saling menempel ketat dan bibir saling pagut, Robby mendorong daun pintu untuk menutup. Setelah daun pintu tertutup, Bu Intan kembali mengarahkan langkah kaki mereka. Bu Intan lalu mendudukkan Robby di ranjang. Bu Intan berdiri, sementara Robby duduk di ranjang. Syahwat Bu Intan memang sangat liar, dan mereka sekarang bahkan berada di kamar yang biasa digunakan Bu Intan dan suaminya.

Hayal liar Robby benar-benar jadi nyata. Kini ia duduk di ranjang, sementara itu Bu Intan berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka. Robby langsung mengarahkan mulutnya ke perut Bu Intan. Ia menyibakkan kemeja longgar itu untuk melihat padat dan mulusnya perut Bu Intan. Robby mencucupi, menciumi, dan menjilati seluruh perut Bu Intan. Dengan bernafsu Robby menjilati dan memaguti kulit perut Bu Intan. Kedua tangan Robby mendekap pinggul Bu Intan. Kadang Robby meremasi pantat dan pinggul Bu Intan.

Bu Intan benar-benar merasa dimanjakan dan dibutuhkan oleh aksi Robby. Ia kadang menggelinjang saat mulut Robby menelusuri perutnya dan pinggulnya. Kadang ia kegelian. Mata Bu Intan terpaku pada seluruh aksi Robby itu. Tangan Bu Intan meremas rambut Robby, dan kadang Bu Intan mendesakkan pinggulnya ke tubuh Robby. Nafsuy seks Bu Intan yang nakal membuatnya meraih pakaian Robby, ia melepaskan pakaian itu sekaligus dengan singlet sport yang menempel tubuh Robby. Kini tubuh bagian atas Robby telah telanjang.

Mengetahui kenakalan syahwat Bu Intan itu, Robby makin liar menciumi dan menjilati perut dan pinggul Bu Intan. Robby lalu membalik tubuh Bu Intan dan melancarkan pagutan bibirnya di punggung Bu Intan. Bu Intan seketika menggelinjang.

“Nnnggghhhh….mmmhh….,”Bu Intan mendesah.
“Ngggccppp….mmmmccppphhhh…,”Robby memuaskan hayal birahinya makin liar.

Robby lalu menggerakkan tangan kanannya lalu menggapai batang paha Bu Intan yang kenyal dan padat itu. Robby merabai dan meremasi pangkal paha yang mulus itu. Bu Intan mendesir, ketika rabaan tangan Robby yang bergerak dari bawah ke atas sepanjang batang pahanya kadang secara nakal berhenti persis di selangkangannya. Robby lalau meneruskan rabaan itu secara ketat dengan menggeseki selangakangan Bu Intan.

“Nnngggkkhhh…hhhhh….,”Bu Intan hanya mendesis.

Aksi kedua insan berbeda usia itu bagaikan sebuah gerakan lambat. Mereka nampaknya benar-benar menikmati setiap detik persentuhan itu.

Robby benar-benar memuaskan birahinya. Ia membolak-balik tubuh Bu Intan yang sedang berdiri itu dengan menjilati sepanjang pertemuan celana pendek ketat Bu Intan dan kulit pinggulnya. Wangi tubuh Bu Intan semakin merasuki syahwat Robby. Tangan kirinya perlahan membuka kancing kemeja Bu Intan. Bu Intan membantu, dan kini Bu Intan telah telanjang tubuhnya di bagia atas. Hanya menyisakan BH putih menampung besarnya tetek Bu Intan.Nafsu seks Robby benar-benar meningkat.

“Nggmmhhaa…hhhh….mmcccppphhh…mmmhhhccppp…,”Robby terus menciumi dan menjilati kulit mulus Bu Intan.

Tangan Robby lalu bergerak lagi sambil menciumi pinggul Bu Intan. Robby menari celana pendek Bu Intan perlahan. Mulut Robby langsung menyergap setiap kulit terbuka ketika celana pendek Bu Intan mulai turun. Akhirnya celana pendek itu meluncur ke bawah.

“Nggghhh….oohhhh…………mmmcccppphhh….mmccpphhh…ooohh Bu…. mmmhhhh… mmmhhh…ohhh Bu… mmmmcccppphhh… mmmccpphh…, ”Robby mendengus manakala akhirnya ia kini melihat celana dalam Bu Intan yang berwarna hitam.

Robby langsung membuka mulut lalu memagut pinggul padat Bu Intan persisi di pertemuan celana dalam itu dengan kulit pinggul Bu Intan. Kedua tangan Robby kini masing-masing meraba dan meremas batang paha Bu Intan, dan menggelitiki paha itu.

“Mmmhhh…mmhhh…nnngghhh….,” Bu Intan mendesah-desah.

Wajahnya tertunduk menyaksikan semua perbuatan anak muda itu di sekitar pinggul dan selangkanngannya. Dan Bu Intan bisa melihat kulit mulusnya di sekitar pinggul kini telah dihiasi cupangan-cupangan merah. Rabaan dan remasan Robby di pahanya membuatnya nanar, ia mendesakkan pinggulnya ke tubuh pemuda itu sambil kedua tangannya meremasi secara ketat rambut hitam Robby.

Robby perlahan membuka retsleting celananya. Ia secara cepat melepaskan celana jeansnya. Kini mereka hanya ditutupi celana dalam dan beha. Nafsu seks di antara mereka makin bergelora.

Bu Intan lalu bergerak. Ia mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur. Robby menyambut kaki itu, lalu Robby meraih kedua pangkal paha Bu Intan. Bu Intan akhirnya duduk dalam pangkuan Robby. Bu Intan mengangkat satu lagi kakinya, dan ia kini duduk mengangkangi Robby. Mereka saling peluk dengan ketat. Wajah mereka sangat dekat. Mereka saling pandang dengan nanar, lalu kedua mulut mereka membuka dan medekat.

“Nnngggmmmhhhcccppphhh….,”begitulah bunyi pertemuan mulut mereka. Dengan mata terpejam Bu Intan dan Robby saling memagut dan melumat. Lidah mereka meliuk-liuk member kepuasan pada hayal masing-masing.
“Mmmmcccpppp…mmmuuuhh…mmccppphh…,”bunyi cipokan dan jilatan mengiringi ketatnya aksi kedua insan itu.

Bu Intan merasakan memeknya bertemu dengan gumpalan daging yang hangat dan besar. Bu Intan menggerakkan pinggulnya menggesiki kontol Robby dengan memeknya. Walaupun mereka masing memakai celana dalam, gesekan-gesekan antara kontol dan memek itu begitu membuai nafsu. Bu Intan mendesakkan selangkangannya ke selangkanagn Robby. Robby membalas dengan menekankan kontolnya ke memek yang mulai membesar itu. Bu Intan begitu dilanda syahwat. Ia mengayun-ayunkan pinggulnya. Ia begitu merasa nikmat menggeseki memeknya dengan kontol Robby.

Mulut mereka kadang terlepas, lalu melekat lagi seakan hendak mencari sesuatu di mulut yang lain. Bu Intan memutar-mutarkan kepala untuk mendapatkan posisi yang enak melumat bibir Robby. Tangan Robby merabai dan meremasi seluruh tubuh Bu Intan. Bu Intan benar-benar terbakar nafsu.

“Nnngghhhooohhh sayang…mmmhhhh…oohhhh,”akhirnya Bu Intan mendesah. Ia menengadah menikmati semua itu.

Pada saat itulah Robby membuka mulut menciumi batang leher Bu Intan. Dengan bernafsu ia menjilati dan mengecupi leher Bu Intan. Tangannnya lalu bergerak menurunkan tali beha dari pundak Bu Intan. Lalu mulutnya menggilir kulit pundak Bu Intan yang mulus itu. Lidahnya menjilat-jilat. Bu Intan makin melengkungkan tubuhnya. Tangan Robby bergerak lagi membuka kaitan beha di punggung Bu Intan, dan seketika mata Robby menyaksikan pemandangan yang membuat birahinya makin panas. Buah dada itu begitu besar dan mulus,walau sudah Paruh baya tapi putingnya masih berwarna kemerahan coklat.

“Oooo Bu Intan..hhhmmmcccppphh…,”Robby mendengus lalu mulutnya mencaplok tetek Bu Intan. Mulut Robby langsung mengisap ujung tetek itu.
“Ohhhh sayang…,”Bu Intan mendesah manakala mulut Robby mencaplok buah dadaya.”Ohhh sayang…hisap sayang..ohhh sayang…isap susu ibu sayang…oohhh Robby sayang…ohhh,”Bu Intan mengerang.
“Mmmmccppphhh…mmmcpphh…,”Robby benar-benar memuaskan dirinya dengan mengecupi dan menjilat susu Bu Intan.

Ia mengemut dan mengisap. Kedua bukit susu Bu Intan memerah dihisapi Robby. Kadang puting itu ia hisap dengan kuat, membuat Bu Intan menjerit-jerit. Mulut Bu Intan lalu terbuka dan ia mencium kuping Robby dan mendesahkan nafsunya di kuping itu. Robby mendengar semua desahan tertahan yang dibisikkan Bu Intan di kupingnya.

“Oooohhh sayang..ia gitu sayang…ohh hisap sayang…emut ujungnya sayang….aaaahhh…oohhh Robby…ohhhh sayang…hisap sayanag…ohhhh sayang hisap susuku..ohhh…ohhhh Robby kamu suka susuku sayang…mmmhhhhmmghhhh..oohhh Robby…,”

Robby mengemut puting susu Bu Intan, ia menariknya lalu melepasnya. Ia mengemut lagi, menarik puting susu itu, lalu melepasnya. Robby berulang kali melakukan hal itu di tetek kiri-kanan Bu Intan. Bu Intan menyaksikan semua perlakuan itu. Ia begitu merasa dicintai, dikagumi, dan dibutuhkan. Bu Intan meremasi rambut Robby. Selangkangan mereka betul-betul menempel sangat erat. Bu Intan ingin Robby tahu bahwa ia benar-benar menginginkan pemuda itu. Di telinga Robby, Bu Intan membisikkan bahwa ia suka dengan Robby. Selagi mulutnya menjilat, mengisap, dan mengemuti susu yang besar itu, Robby mendengar semua bisikan penuh nafsu Bu Intan.

“Mmmmhhhhmmmhh..ooohh…ohhh Robby…ohhh sayang enaknya susuku dihisapin gitu…aahh isapin tetek ibu sayang…kamu suka tetek ibu kan sayang..jilatin susu ibu sayang…mmmhhhooohhhh..iyah gituh sayang..oohhh….ohh jilatin sayang…ohh sayang enaknya…ohhh hisapin susuku…ohh sayang, kamu daru dulu pengen sama tetek ibu kan sayang..ohhh Robby…dari dulu kamu sering bayangin tetek ibu kan…ohh Robby, ibu juga dari dulu pengen begini sama kamu Robby..oohhh dari dulu ibu juga pengen tetek ibu dihisapin sama kamu sayang..ohh Robby, susu ibu besar yah..kamu suka susu ibu yang besar ini kan sayang…ohh sayang dari dulu kamu sering membayangkan susu ibu yang besar ini kan…ohh sayang emut putingnya sayang..yah…yahh..gitu sayang…oohh enaknya sayang….oohhh sayang enaknya susuku dihisap seperti itu…ohhh sedot sayang..ohh sedot tetek ibu sayang..ohhh…ooohhh Robby enaknya..ohh sayang…emut yang kuat sayang…ohh enaknya..ohhh sayang…ohh enaknya susuku dihisapin gitu….ohhh cupangin semua sayang..ohh..sayang…ohh Robby cupangin tetek ibu sayang..ohhh..,”Bu Intan tak henti-hentinya mendesahkan nafsunya di telinga Robby.

Robby begitu bergelora mendengar desah nafsu ibu setengah baya itu. Ia mencupangi seluruh permukaan susu Bu Intan yang besar itu. Tangannya meremas pangkal tetek Bu Intan dan mulutnya melekati ujung susu besar itu. Ia terpejam melakukan itu semua. Ia begitu menikmati penyaluran nafsu seksnya yang telah lama ia dambakan terhadap wanita paruh baya itu.

Getaran nafsu yang luar biasa membuat Bu Intan akhirnya mendesakkan tubuhnya. Tubuh Robby terdorong menimpa kasur empuk itu. Robby terlentang. Bu Intan merangkak mengarahkan kedua susunya untuk kembali dijilati Robby. Dari bawah mulut Robby menyedoti dengan kuat puting susu itu. Kedua tangannya meremasi susu besar itu. Bu Intan merasa puting susunya begitu membengkak karena nafsu. Dan hisapan dan emutan mulut Robby membuat puting itu memerah. Bu Intan merasakan memeknya sangat gatal dan basah. Bu Intan saat itu merasa sangat ingin segera dientoti oleh pemuda itu. Ia begitu menginginkan anak muda itu segera menggaulinya. Tetapi ia ingin memuaskan fantasi anak muda itu yang ia tahu sering menghayalkan tubuhnya.

“Sayang, ke tengah sayang…,”ujar Bu Intan. Dan Robby segera bergerak ke tengah.

Kini Robby telentang di tengah-tengah ranjang. Kepalanya menyandar pada bantal di ujung kepala kasur itu. Bu Intan mendekatinya sambil merangkak. Lalu ketika sampai di sisi kiri tubuh Robby, Bu Intan menunduk lalu melumat mulut Robby penuh nafsu, hanya sejenak. Bu Intan lalu berdiri pada lutunya, tangannya lalu bergerak ke selangkangan Robby.

Bu Intan melepas celana dalam Robby. Robby begitu terpana dengan aksi ibu setengah baya itu. Tangan kanan Bu Intan lalu meraih kontol Robby. Mata Bu Intan melekat pada kontol itu. Bu Intan meremas kontol Robby dengan gemas, lalu bu Intan pun mengocok kontol Robby. Jemari Bu Intan nyaris tidak sanggup melingkari batang kontol itu. Tangan istri Suriono Rusmanto itu bergerak mengocoki dengan perlahan kontol pemuda itu. Dari perlakuannya itu sangat jelas tergambar bahwa Bu Intan memang sudah lama memendam nafsu seksnya terhadap Robby.

Bu Intan yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam itu mengocoki kontol Robby penuh perasaan. Kemudian Bu Intan merebahkan tubuhnya merapat di sisi Robby, tangan kanannya masih mengocok kontol anak-muda itu. Kini mulut Bu Intan bergerak menciumi perut Robby. Bu Intan menunduk mencucupi, menjilati, dan memaguti kulit Robby mulai dari perut sampai dada. Di dada Robby, mulut Bu Intan membuka mulut lalu mengecup sebentar puting susu Robby sejenak lalu kemudian Bu Intan mengemuti puting susu itu penuh nafsu.

“Ohhh bu…oohh enaknya bu ohh…nnngggghhhooohhhh enaknya kontolku dikocokin gitu bu…ooohhh…ooohhh sayang…ooohhh Bu
Intan…ooohh Bu Intan sayang….ooohhh kocok yang enak bu ohhh….nnnggghhhhssshhh…aaaahhhhhssshhhhhhsssaaahhh h….oooh Bu Intan oohh… …oooohhh hisap putingku bu oohh….ooohhhssshhh iyahhh…hhhssshhh ooohhh yahhh jilatin bu…ooohhh enaknya…,”Robby mendengus-dengus menahan nikmatnya jilatan dan emutan Bu Intan di putingnya, terutama kocokon tangan Bu Intan dikontolnya. Robby menggeliat menyaksikan semua aksi Bu Intan. Sementara Bu Intan semakin bernafsu mengemuti dan menciumi puting Robby, hal yang sama sekali belum pernah ia lakukan terhadap suaminya.

Apalagi mendengar erangan penuh nafsu anak muda itu membuatnya makin suka. Bu Intan merasakan betapa batang kontol Robby yang dikocokinnya itu semakin kaku, semakain besar dan berdenyut.

Bu Intan menggesek seluruh tubuhnya ke tubuh Robby. Ia semakin merapatkan tubuhnya. Syahwat Bu Intan semakin liar. Ia mengemut puting serta mengocoki kontol Robby dengan getaran tubuh yang panas.

“Ooohhhhh Bu Intan ooohhhhhssshhhhss…,”Robby makin mengerang saking menahan nafsunya.

Mendengar itu, Bu Intan menyudahi emutannya di puting Robby. Tetapi tangannya tetap memegangi kontol Robby. Bu Intan mengangkat wajahnya. Ia tersenyum mesum pada Robby, matanya berkilat penuh birahi. Masih dalam keadaan berbaring di sisi Robby serta tangan yang meremasi kontol, mulut Bu Intan mendekati mulut Robby. Bu Intan membuka mulut lalu ia menciumi bibir Robby dan melumatnya. Robby balas mengeluarkan lidah dan menyedot lidah Bu Intan. Tetapi hanya sebentar, karena Bu Intan menarik mulutnya. Mulut Robby terbuka, mulut Bu Intan kembali mendekat. Mereka berciuman titpis saja, lalu Bu Intan menarik lagi bibirnya. Begitu terus sambil Robby merasakan enaknya kontolnya dikocokin Bu Intan.

“Nnngggmmhhhhh enak sayang?”tanya Bu Intan.
“Ohh iya Bu. Enak Bu..,”balas Robby.
“Ohhh sayang besarnya kontolmu ini. Ohh Robby sayang…,”Bu Intan memejamkan mata dan memagut mulut Robby.
“Ohh enak banget Bu kontolku dikocokin gitu,”ujar Robby ketika bibir mereka kembali lepas.

Bu Intan mendekatkan wajahnya semakin dekat, bibir dan hidung mereka bersentuhan tipis. Mereka saling pandang penuh nakal.

“Kamu dah lama pengen main sama ibu kan?”tanya Bu Intan.
“Ohhh iya Bu Intan,”jawab Robby.

“Ibu tahu kamu sering ngeliatin ibu dengan nafsu…,”ujar Bu Intan.”Ibu tahu kamu sering curi pandang susu ibu kan?
Kamu dari dulu pengen begini sama ibu kan sayang…nnngggmmmhhhh..,”ucap Bu Intan sambil memagut bibir Robby.

Robby membalas dan kali ini ia tangannya bergerak. Ia meraih kepala pipi Bu Intan lalu menahan gerakan Bu Intan dan dengan begitu Robby secara rakus menjilati dan menciumi mulut wanita paruh baya itu. Bu Intan begitu suka dengan perlakuan itu.

“Oooo sayang…kontolmu panjang sayang…kontolmu keras banget Robby…ohhh Robby ibu suka sama kontiolmu yang besar dan panjang…oooohhh Robby ibu udah gatel banget sayang…ohh Robby sayang entotin ibu sekarang…,”Bu Intan menggeliat-geliat sambil menciumi bibir Robby.

Ia lalu mendekap pipi Robby dan memberi isyarat agar Robby bangkit. Robby paham. Ia langsung bangkit dan kini Bu Intanlah yang telentang di kasur. Robby dengan tidak sabar bergerak ke selengakangan Bu Intan. Ia membuka paha Bu Intan, lalu menempatkan tubuhnya di antara paha yang terbuka itu. Ia memandangi celana dalam Bu Intan yang sudah basah. Ohhh memek ini busung banget, pikir Robby.

Bu Intan melihat Robby menunduk dan kemudian ia merasakan celana dalamnya diciumi. Robby memang dengan bernafsu langsung menciumi celana dalam Bu Intan yang sangat merangsang dalam pandangannya itu. Robby membuka mulutnya melahap celana dalam itu.

Bu Intan menaikkan pantatnya menyambut mulut Robby,”Ooooohhhh sayang…ooohhh Robby buka celana dalam ibu sekarang sayang..oohhh sayang ibu pengen ngentot sekarang sayang…ooohhh…ibu udah sange banget sayang… oohhh Robby entoti ibu sekarang…nnhhhhnnnngggggssshhhh…oohhh sayang entoti ibu sekarang…,”Bu Intan menggeliat-geliat dan menaikkan pinggul menggeseki mulut Robby.

Robby yang memang sudah sangat bernafsu langsung membuka celana dalam Bu Intan. Dan ketika akhirnya celana dalam itu terbuka Robby bisa melihat lebatnya jembut Bu Intan. Memek Bu Intan yang montok membusung semakin merangsang Robby dengan adanya jembut yang lebat itu.

“Oooohhhh Bu Intan lebatnya jembutmu ohhh bu,”ucap Robby lalu menunduk lagi dan menciumi memek Bu Intan.
“Ssssshhhhhhhnnnggggssshhh….,”Bu Intan langsung mendesis bagai kucing ketika merasa kulit memeknya yang sensitif disentuh lidah Robby.

Robby bergerak lagi menciumi pangkal paha bagian dalam Bu Intan. Ia mencupangui paha itu sampai memerah. “Oooohhh Bu Intan memekmu tebal bu…ohhh Bu Intan…ohhh Bu Intan memekmu montok banget Bu..ohhhssmmmmhhhhh…,”kembali Robby menjilati memek itu.

“Nnnnngggssshhhhhaaahhhhsshhh….aaahhh sayang entotin ibu sekarang sayang…ooohhhhhssshhhh….,”Bu Intan kembali menggeliat mengangkat pinggulnya menyambut mulut Robby.

Bu Intan merasakan lidah anak muda itu menjulur memasuki lobang memeknya. Ia merasakan mulut pemuda itu menciumi bibir memeknya yang sangat basah.

“Oooohhh sayang…ooohhhh sayang…ooohhh sayang…,”Bu Intan hanya bisa mendesah keeanakan.

Akhirnya Robby menyudahi ciumannya di memek Bu Intan. Ia menempatkan posisi, lalu tangannya bergerak memegang kontolnya. Robby mengocok kontolnya sebentar, lalu kemudian ia mulai mengarahkan kepala kontolnya yang besar ke lobang memek Bu Intan. Robby mendorong sedikit dan ujung kontol itupun masuk sedikit ke lobang memek Bu Intan. Robby lalu bergerak menindih tubuh bugil Bu Intan.

Bu Intan merasakan betapa kepala kontol yang besar itu mulai masuk sedikit ke lobang memeknya. Ia merasakan betapa kontol itu tegang dan besar. Bu Intan langsung menggerakkan kaki menjepit paha Robby. Ia merangkul bahu anak muda itu. Bu Intan memandang betapa warna birahi tergambar di wajah pemuda itu. Dan Bu Intan menyambutnya dengan memagut bibir Robby. Robby menempatkan siku di sisi kepala Bu Intan, lalu ia mulai menikmati kontolnya yang masih masuk sedikit itu. Robby mengocok lobang memek Bu Intan dengan kepala kontolnya saja. Dan itu membuat Bu Intan mendesah-desah merasakan nikmat.

“Oooooohhhhhsshhhhnnggghhhhmmmssshhh Robby ooohhhhssshhh…,”desahan Bu Intan begitu merangsang.

Ia memejamkan mata menikmati kocokan kontol anak muda itu.

“Nnnnnggggsshhh sayang…oohhh enaknya sayang…ooohhhh sayang oooohhhssss besarnya kontolmu sayang ooohh…oohhh tekan lagi sayang..oohhh masukin terus kontolmu sayang…ooohhh sayang oooohhh Robby entoti lobang memek ibu ooo….,”Bu Intan begitu penuh syahwat merasakan kontol muda yang sedang menggaulinya.

Dan itu membuat fantasi seksnya makin liar.

“Oooohhh Bu Intan ohhhh enaknya ngentot sama Bu Intan…oooh Bu Intan sayang ooohhhssshhssmmmhhh…,”Robby begitu bernafsu menggeluti dan mengocoki lobang memek ibu setengah baya itu dengan kepala kontolnya.

Lalu Robby kembali menggerakkan pinggulnya mendorong. Robby menekan lalu kontolnya yang besar dan panjang itupun masuk semua.

Bu Intan langsung membuka mata. Ia merasakan besarnya kontol pemuda itu. Bu Intan begitu terangsang dengan panjangnya kontol itu serta tegangnya batang kontol itu. Ia melihat Robby terpejam. Bu Intan lalu menciumi mulut Robby lalu berbisik di telinga Robby,

“Ooooohhhh sayang besarnya kontolmu sayang…ooohhh enaknya…ohhhh kontolmu panjang sekali Robby sayang..ooohhh sayang..oohhh Robby enak banget memek ibu sayang ooohhhsss… nnmmmsshh…ooohh entoti lobang memek ibu sayang oohhh…mmmmhhhhssshhh ooohhh Robby, kamu dari dulu pengen ngentotin ibu kayak gini kan sayang…oooohhh sayang besarnya kontolmu Robby ooohhh…ooohh kocok memekku sayang..ooohhh ibu suka ngentot sama kamu nak Robby ooosshhh….ooohh senggamai ibu sayang….oohh entoti…oohhh sayang…enaknya ooohhh Robby sayang gauli ibu sayang…oohhhh…,”Bu Intan semakin menuntaskan fantasi birahinya terhadap anak muda itu.

Robby begitu menikmati mengentoti wanita paruh baya itu. Ia menaik-turunkan pinggulnya. Kontolnya yang besar keluar masuk lobang memek Bu Intan.

Robby begitu terangsang dengan kemontokan dan ketelanjangan Bu Intan yang sedang digenjotinya itu. Kadang ia teringat dengan Ilham temannya dan kepada Pak Suriono suami Bi Intan, akan tetapi justru itu membuat nafsu birahinya terhadap Bu Intan makin tak terbendung. Dengan penuh perasaan ia mengentoti wanita paruh baya itu. Ia menekan kontolnya dengan dalam sehingga ujung kontolnya masuk sangat dalam, dan membuat Bu Intan menggelinjang penuh syahwat birahi.

“Ooooogghhhsshhh sayang…kontolmu masuk dalam banget sayang…oohhh Robby panjangnya kontolmu sayang…oohhh tekan lagi sayang..ooohhh iyah sayang…iyah sayang..oohhh yah gituh sayang…oohhh iyah sayang..oohhh dalam banget kontolmu masuk Robby oohhh panjangnya kontolmu sayang…..iyah..oohhh kontolmu samapi mentok rahim ibu sayang…ohhh sayang ohhh sayang tekan lagi sayang…ohhh sayang tekan sedalmnya sayang biar kontolmu masuk mulut rahim ibu sayang…oohhh iyah sayang..ohhhh yah gituhh…ohhh Robby kontolmu masuk rahim ibu sayang…ohhhh sayang kepala kontolmu masuk sayang…oohhh sayang besar sekali kepala kontolmu sayang…ohhhh Robby kepala kontolmu masuk ke rahim ibu sayang ooohhhhssshhmmmhhh..sshhhaahhh kepala kontolmu masuk sampai rahim ibu nak Robby ooohhhh enaknya sayang…oohhhh enaknya kontolmu…ohhh enaknya kontolmu…ohhh…oohhh entotin ibu sayang…oohhh enaknya entotanmu Robby…oohhh ebaknya entotanmu sayang…oohhh Robby sayang..ibu keenakan sayang…oohhh lobang memek ibu keeanakan sayang…ohhhh sayang…ooohhhsssmmmhh…,”

Bu Intan begitu bernafsu dengan ukuran kontol Robby yang keluar masuk lobang memeknya. Bu Intan semakain menjepitkan kakinya ke paha Robby dan ia mendesakkan pinggulnya keatas menerima entotan-entotan Robby. Bu Intan begitu bernafsu dengan kontol pemuda itu. Bu Intan sangat ingin setiap tusukan kontol Robby langsung memasuki rahimnya. Ia begitu gatal dan penuh birahi.

“Oooohhhh Bu Intan sayang…enaknya menggauli tubuhmu Bu Intan…ohhh enaknya kontolku masuk memek Bu Intan…ooongggggsshhh aaahhhsss oohh Bu Intan enaknya lobang memekmu Bu…ooohhh Bu Intan…oooo Bu Intan rasanya kontolku masuk dalam banget bu….ooohhh enaknya mengentoti memekmu bu…oohhh Bu Intan sayang…oohhh sayang…ooohhh sayang…oohh bu aku keenakan bu…aku suka ngentot sama ibu…oohhh…,”Robby juga memuaskan fantasi seksnya terhadap Bu Intan yang selama ini menggoda hayalnya.

“Oooohhhgghhsshhooohhh iyah sayang…oh ibu juga suka ngentot sama kamu sayang…ibu bisa ketagihan ngentot sama kamu sayang..ohhh kontolmu besar sayang..ohhh sayang kontolmu panjang sayang..ohhh enaknya kontolmu.. ibu bisa ketagihan sayangooo…. ohhhh…ohh tekan lagi sayang…oooggsshhh sayangku Robby oooohh ….aaaaacccchhhsssshhh…enaknya entotanmu…oooouuugghhh sayang kontolmu mentok rahimku sayang…oooghh sayang masuki rahim ibu sayang…ohhh enaknya…ohhh enaknya….oooohhhgghhhsshh enaknya kontolmu…,”Bu Intan mendesakkan tubuhnya ke tubuh Robby untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih.

Selangkangan mereka kadang melekat erat. Pangkal batang kontol Robby sampai mentok dengan selangkangan Bu Intan. Kadang mereka saling memompa dengan cepat. Mereka saling menggenjot penuh birahi. Robby mendesakkan pinggulnya ke selangkangan Bu Intan. Ia begitu bernafsu menggagahi wanita paruh baya itu. Mereka kadang memiliki rasa hayal yang sama saat itu. Di mana mereka melakukan perselingkuhan yang penuh mesum itu di rumah Bu Intan, bahkan di ranjang yang biasa digunakan oleh Bu Intan dan suaminya Suriono Rusmanto. Dan itu semua hanya membuat hayal syahwat kedua insan berbeda usia itu makin bergelora dan nakal.

“Oooohhh sayang…enaknya ngentot sama kamu…ohhh Robby ibu suka kontolmu sayang..iyah sayang..oohh iyahh sayang…oohh iyah gituh sayang…ooohh entoti terus lobang memekku..oooghhh sayang enaknya entotanmu…oohhh sayangku Robby…oooohhh…ooohhh…ooohhh… ooohhh… ooohhh… ooohhh…aaacccghhh sayang sebentar lagi ibu mau kelura sayang..ooohhh emtoti yang kuat sayang… ooohh pompa memek ibu…ooohhh yahhh sayang…oohh Robby oohh gagahi ibu sayang…ooocchhh sebnetar lagi sayang…ooohhh… ooohhh… ooohhhsss…. Ooohhh… ooohhh…,”Bu Intan makin merapatkan pinggulnya untuk mendapatkan tusukan-tusukan kontol Robby yang paling dalam.

“Oooohhhhh sayangku Bu Intan…oohhh enaknya ngentoti memekmu bu…ooohhh enaknyabu… ooohhh Bu Intan lobang memekmu enak…,”Robby makin mempercepat entotannya.

Ia makin mendesakkan pinggulnya ke selangkangan Bu Intan yang begitu terbuka.”Ooooghh Bu Intan aku juga mau keluar bu…oohhh enak banget bu…oohggg enaknya kontolku bu…,”

“Ooohhhggg sayang entot yang dalam sayang….tusuk yang dalam sayang…yahh masukin kontol panjangmu lebih dalam lagi sayang biar enak sayang oohgghhhhsshh..oogghh besarnya kontolmu Robby…ohhgg makin tegang sayang…oohgg kontolmu makin besar sayang….sayangku Robby tekan kontolmu lebih dalam sayang….oogghh masukin kontolmu makin dalam ke rahim ibu sayang…

Oohhh sayangku tekan kontolmu biar masuk rahim ibu sayang…ohhh yahh…oohh yah …oohh yahhh gituhh sayang…ohhhh sayangku…masukin rahimku sayang…oohhh sayang keluarin spermamu sayang…oogghh yahh sayang oohh masukin spermamu dalam rahim ibu sayang…oohhh tekan lebih dalam sayang biar spermamu masuk rahim ibu sayang…oohggg…oosshh yah sayangku…oohhh yahh sayang….oohhh keluarin manimu sayang…oohh sayang keluarin spermamu dalam rahimku sayang…oogghh sayang… ooohhssshhhss entotin lobang memek ibu sayang…oohhsshhh Robby sayang keluarin spermamu yang banyak dalam rahim ibu sayang..ohhh sayang keluarin spermamu yang banyak sayang…oohhggg Robby oohhh Robby sayang..keluarin spermamu yang banyak ke dalam rahim ibu sayang biar ibu hamil sayang…ooohhgggg sayangku Robby..ohhh sayangku Robby ibu pengen hamil oleh spermamu sayang…oohhh yah entotin terus memek ibu sayang…ooohhh Robby ibu pengen hamil oleh kontolmu sayang…

Oohhh keluarin spermamu yang banyak dalam rahim ibu sayang biar ibu hamil…ooohh ibu masih bisa hamil sayang…oohhh Robby sayang hamili ibu sayang…oohhh sayang entot ibu samapai hamil sayang…oohhh Robby hamili ibu sayang…kamu pengen ibu hamil kan sayang…ooohhhsssmmmhh kamu pengen ngenotin ibu sampai hamil kan sayang…oohhh …oohhh keluarin manimu yang banyak dalam rahimku sayang…ooohhh Robby sayang hamili ibu…aahhh hamili ibu sayang…entoti ibu samapai hamil…,”

Robby semakin liar menggenjot tubuh Bu Intan. Hayalnya benar-benar terpuaskan. Robby memang sering berhayal bisa ngentotin Bu Intan sampai ibu paruh baya itu hamil. Ia semakin menggoyangkan pinngulnya. Ujung kontolnya semakin gatal. Robby menusukkan kontolnya dengan tusukan yang dalam. Dan akhirnya ia merasa akan mengeluarkan spermanya.

“Ohhh Bu Intan aku mau keluar…ooooooooooooooooohhhhhhh sayangku Bu Intan…aaacchhh ooohhh Bu Intan aku keluar sayang….ohhh spermaku lagi banyak bu…oohhh Bu Intan kuhamili kau Bu…oohhh Bu Intan aku keluar…oohh Bu Intan ini spermaku sayang…ooooooooooooohhh ooooggghhhh sayang akan kubuntingin kau bu…oooooooooooooogghhh….,”Robby menekan kontolnya sedalam-dalamnya sambil mengerang.

Selangkangan mereka menempel begitu ketat. Gerakan-gerakan ritmis dan otomastis mengiringi menempelnya kedua pinggul mereka. Gerakan-gerakan ritmis itu menandakan kedua kelamin mereka sedang memompakan sperma masing-masing. Bu Intan begitu puas oleh persetubuhan itu. Tangannya dan kakainya mendekap kuat pinggul dan pantat Robby. Bu Intan sangat ingin kontol pemuda itu masuk makin dalam ke rahimnya. Dan Bu Intan merasakan kepala kontol anak muda itu memasuki rahimnya dan ia merasakan kontol yang besar dan panjang itu berdenyut-denyut. Bu Intan merasakan kontol itu mengganguk-angguk dalam lobang rahimnya menyemprotkan sperma yang begitu banyak memasuki rahimnya. Bu Intan tidak tahu mengapa ia begitu ingin dihamili oleh Robby.

Bu Intan mendesah setelah persetubuhan nikmat itu. Ia berbisik di telinga Robby, “Ohhh sayang, spermamu banyak banget masuk rahim ibu. Oh sayang ibu bisa hamil sayang…ooogghhh sayangku Robby, ibu pengen banget hamil oleh kontolmu ini sayang…,”

Nafas Robby menderu-deru. Persetubuhan dengan Bu Intan yang bertubuh montok semok dan merangsang itu betul-betul menimbulkan nikmat yang luar biasa. Dan kini nafasnya dan nafas Bu Intan bagai bersahutan-sahutan.

Robby mengangkat wajahnya, dan memandangi wajah wanita paruh baya itu. Lalu ia melumat bibir Bu Intan dan berbisk,

“Aku juga pengen ibu hamil. Ohhgghhh Bu Intan, sejak pertama kali bertemu ibu, aku sudah pengen banget menghamilimu bu..,”desah Robby.
“Aku juga sayang. Sejak pertama kali jumpa sama kamu, ibu tahu kamu pengen ngentot sama ibu. Matamu yang sering curi pandang sama ibu membuat ibu tahu kamu pengen banget ngentotin ibu, dan ibu tahu kamu pengen mengahamili ibu…mmmmhhhh…,”Bu Intan membalas dengan mengecup bibir Robby.

Mereka bergelut sepanjang hari hingga malam… Berkali-kali Robby menyetubuhi Bu Intan… Berkali-kali Bu Intan merasakan rahimmnya disembur terus-menerus oleh mani Robby yang hangat dan kental… Kontol Robby yang besar dan panjang benar-benar memuaskan dahaga liarnya yang binal… Ia begitu meresapi tusukan-tusukan kontol besar dan panjang Robby di lobang memeknya… Ia merasa kembali hidup penuh gairah… Robby begitu merasakan kepuasan seksual yang penuh ketika menggagahi wanita paruh baya itu.. bahkan mengetahui Bu Intan adalah istri orang semakin menggelorakan nafsu seksnya… Ia begitu bernafsu setiap kali menggenjoti tubuh Bu Intan… Dan ia selalu menghentakkan pinggulnya, menusuk sangat dalam ke lobang memek Bu Intan ketika kontolnya menyemprotkan mani ke dalam rahim Bu Intan.. Dan itu semua benar-benar memuaskan fantasi seksnya…

Sesudah permainan seks yang liar itu mereka sekali seminggu berjumpa di sebuah hotel. Dalam jangka waktu itu Bu Intan pernah merayu suaminya dengan gaya yang palsu… Ia mengajak suaminya bersetubuh… Bu Intan berbisik di telinga suaminya: “Aku ingin punya anak lagi… Dan setelah persetubuhan, Bu Intan ke kamar mandi membuang semua sperma suaminya….

Dua setengah bulan setelah persetubuhan pertama, Bu Intan dan Robby kembali bergelut di ranjang sebuah hotel… Di akhir persetubuhan Bu Intan menciumi leher dan telinga Robby, dan berbisik:…Oh sayang…aku hamil… Aku mengandung anakmu..,” .

Panduan Bermain Poker Online IDN Play

BCD.Cara bermain game omaha online untuk para pemula dan yang paling mudah di pahami Perusahaan poker terbesar diasia tenggara IDNPOKER baru...